Telak!!! Sebut Agama adalah Takhayul dan Sains adalah Nyata, Bacot Islah Bahrawi Kena Smackdown MUI


AWAS IKLAN KHUSUS DEWASA!:
Loading...

 


Islah Bahrawi, Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, berpendapat bahwa agama dan sains tidak dapat berdampingan. Dirinya menegaskan pendapat tersebut dengan gagasan orientalis barat yaitu 'agama itu takhayul, sains adalah nyata'.

Mulanya, Komisi Dakwah MUI, Cholil Nafis, menjelaskan bahwa agama dan sains harus berdampingan.

Pernyataan tersebut disanggah oleh Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi.

Perdebatan ini dilatarbelakangi oleh pembahasan metaverse Ka'bah yang dikeluarkan oleh Arab Saudi, kemudian perbincangan berkembang sampai pada pembahasan agama dan sains.

Cholil Nafis berpendapat bahwa agama dan sains harus berdampingan. Artinya, agama tidak mengekang perkembangan sains dan teknologi.

Namun, berbeda dengan pendapat Islah Bahrawi, dirinya menyatakan bahwa agama tidak mungkin beriringan dengan sains. 

Bahrawi menjelaskan bahwa perkembangan sains tidak dapat dibatasi oleh fiqih agama, sehingga agama tidak mungkin berdampingan dengan sains.

"Sampai kapanpun tidak akan mungkin beriringan! sains dan agama itu akan selalu kejar-kejaran," ujar Islah Bahrawi dalam acara Dua Sisi di TV One, beberapa waktu lalu.

"Apalagi ada orang yang beranggapan bahwa dengan beragama, apa yang tidak ada pada zaman dulu, itu tidak boleh ada pada hari ini, ini kan kelimpungan sendiri nantinya," ujar Islah Bahrawi melanjutkan.

Menurut Islah, ada benturan peradaban antara agama dan sains. Menurutnya, peradaban tidak dapat dicegah kemajuan dan perkembangannya.

"Peradaban tidak dapat dicegah, dia akan bergerak dengan sendirinya, tidak bisa dihalang-halangi, mohon maaf saya beragama, saya islam, tapi perkembangan peradaban tidak bisa dicegah oleh fiqih-fiqih, karena dia akan bergerak dengan sendirinya. Sains ini memang punya logikanya sendiri," ujar Islah melanjutkan.

"Soal sains dan agama itu akan sulit bersatu, karena memang dua mainstreamnya berbeda. Mohon maaf, kalau mengacu kepada kalangan orientalis barat mengatakan agama itu takhayul sedangkan sains itu adalah hal yang nyata," ujar Islah menegaskan.

Kemudian, Cholil Nafis tidak sependapat dengan Islah. Menurutnya, Islah memandang itu dari sudut pandang pemahaman agama yang konservatif.

"Begini, yang digambarkan mas Islah itu adalah pemahaman agama yang konservatif, agama dinilai sebagai dogma, tapi kalau dipahami bahwa agama sebagai peradaban sehinga akan bisa beriring, coba kalau kita lihat, siapa penemu kamera pertama sebelum barat? Al-Khaitami!," ujar Cholil menegaskan.

"Jadi kalau kita lihat kemajuan sains tidak bisa beriring dengan agama, itu adalah trauma renansains, ketika itu dikuasai gereja, menganggap gereja terlalu mengekang terhadap intelektualitas," ujar Cholil menandaskan. (int)

Baca Juga
AWAS IKLAN KHUSUS DEWASA!!!:
Loading...