News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Serangan ke Anies Makin Masif, Kini Detik.com Diprotes Warganet Karena Fitnah Keji

Serangan ke Anies Makin Masif, Kini Detik.com Diprotes Warganet Karena Fitnah Keji

 


Pilpres masih dua tahun lagi. Namun serangan ke Anies Baswedan sudah sangat masif. Seolah pemilu akan diadakan sehari lagi. Isu yang dimainkan pun hanya seputar politik identitas. 

Mulai dari pejabat negara, tokoh polik, media hingga buzzeRp, kompak mengacungkan isu fitnah tersebut.

Terkini, judul pemberitaan di media nasional detik.com diprotes warganet. Detik membuat artikel berjudul "Pernah Manfaatkan Politik Identitas, Anies Baswedan Diprediksi Susah Nyapres".

Adalah Tatak Ujiyati yang melayangkan protes terkait judul tendensius berbau fitnah tersebut.

"@detikcom partisan? Judul detik ini amat jahat. Anies adl korban. Di pilkada DKI justru Anies mencegah kekerasan. Minta spanduk provokatif diturunkan, minta relawannya turun tangan membantu. Faktanya dlm kasus Nenek Hindun, mmg relawan Anies yg bantu," tulis Tatak di akun Twitter @tatakujiyati.

"Kalaupun Detik mengutip pendapat orang, sertakan dong nama org tsb dlm judul shg pembaca tahu itu pendapat subyektif orang. Tanpa merujuk sumber, @detikcom telah berpihak, menuliskan tuduhan tsb sbg fakta. Pdhal apakah Anies pernah divonis bersalah pakai politik identitas? No," sambungnya lagi.

Protes Tatak diaminkan warganet lain yang merasa jengah dengan masifnya serangan fitnah ke Anies Baswedan.

"Justru saat suasana sudah tentram mereka menggoreng terus kejadian masa lalu, kalau peristiwa diatas salah anies terus bagiamana dgn Pak Maaruf Amin Pak Mahfud MD bukankah mereka juga berperan dan bersikap pada peristiwa 2017😀," lanjut Tri Sula.

"Kompaaaak ya merekaaa ? 😁 pada dapet amplop dari kantong yg samakah ? 😁," sindir Pineksoroyi.

Sebenarnya, sudah banyak artikel berita yang sudah mengklarifikasi tuduhan politik identitas saat Pilgub DKI bebera tahun lalu. 

Bahkan Kumparan.com sudah menurunkan hasil investigasi wartawannya perihal kasus warga yang menolak menyolatkan jenazah pendukung Ahok. 

Namun isu tersebut kembali diangkat dan digoreng kembali. 




Sebelumnya, Founder lembaga survei Cyrus Network, Hasan Nasbi memprediksi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tidak akan mendapatkan tiket capres 2024. Ada sejumlah faktor yang membuat Hasan meyakini predisksinya itu.

Hasan melihat ada 3 faktor yang menjadi landasan prediksinya soal Anies tak akan dapat tiket capres. Pertama, Hasan melihat hingga kini belum ada gestur dukungan yang konkret dari Presiden Jokowi untuk Anies. Dia mengaitkan dengan momen kehadiran Jokowi di ajang balap Formula E Ancol.

"Kalau buat Mas Anies, saya belum melihat sebenarnya gestur dukungan politik yang betul-betul, yang lebih konkret. Formula E itu ajang internasional, aneh kalau Presiden tidak menyetujui itu, aneh kalau Presiden tak hadir ketika perhelatan itu diselenggarakan," kata Hasan dalam diskusi yang digelar Total Politik, seperti dilihat pada Kamis (23/6/2022).

"Jadi, menurut saya, adabnya memang seperti itu, sopan santun, etika bernegaranya seperti itu (Presiden Jokowi mesti hadir di gelaran balap Formula E). Tapi kalau menunjukkan dukungan, saya belum melihat bahasa verbalnya (dari Jokowi)," imbuhnya.

Poin kedua, Hasan bicara soal politik identitas. Hasan menilai strategi politik identitas di masa lalu ini akan jadi hambatan bagi Anies.

"Tapi yang perlu diwaspadai adalah, misalnya gini, ada orang yang pernah memanfaatkan politik identitas, tapi kalah, saya rasa dia akan introspeksi. Nah, pertanyaannya adalah ada orang yang pernah memanfaatkan politik identitas, tapi menang, introspeksi nggak kira-kira?" ucap Hasan.

Lebih lanjut Hasan menilai perihal strategi politik identitas ini bisa jadi masukan untuk NasDem dalam menentukan 1 dari 3 bakal capres hasil rakernas tahun ini.

"Ya siapa tahu kalau dia bisa introspeksi nggak apa-apa, sekaligus juga masukan buat NasDem, kira-kira introspeksi nggak?" ucap Hasan.

Hasan juga menekankan supaya demokrasi di Tanah Air menjadi sehat strategi politik identitas harus dihilangkan. Kemudian rekrutmen calon pemimpin mesti melalui jalur politik.

"Itu harus jadi pertimbangan betul, jangan cuma sekadar ngusung-ngusung dan segala macam. Tapi gini, secara popular vote populer, tapi baik nggak secara kualifikasi?" kata Hasan.

"Termasuk juga saya sepakat nanti, ke depan, kalau kita demokrasi mau sehat, memang harus lewat rekrutmen politik di jalur politik. Jadi kalau hari ini merasa besar, masuklah parpol," sambung dia.

Faktor selanjutnya yang jadi dasar prediksi Hasan soal Anies tak akan dapat tiket capres ialah karakteristik masyarakat Indonesia yang dinilai masih feodal. Diketahui, masa jabatan Anies sebagai Gubernur DKI akan berakhir pada Oktober 2022 ini.

"Kalau menurut saya, kita masih ada setengah-setengah feodalnya, itu realitas hari ini. Jadi, begitu orang punya jabatan, semua orang datang, selain minta tanda tangan, ngundang ngopi, sekadar bertamu, audiensi foto, dan segala macam," tutur Hasan.

"Tapi, begitu tidak punya jabatan, jangankan mau keliling-keliling bertemu konstituen, nyari teman foto susah, nyari teman ngopi juga mulai susah, ajudan yang biasaya menyiapkan segala macam sudah nggak ada," imbuhnya.

Lalu, apakah Anies bisa maju jadi capres 2024? Hasan yakin Anies tak akan dapat tiket capres. Dia pun berani bertaruh mobil Alphard.

Namun, menurutnya, Anies masih punya peluang dapat tiket cawapres. "Begini, saya bilang, kalau (Anies) mau jadi capres berat, dari semua sisi, kalkulasi matematikanya sudah susah. Tapi kalau (Anies) mau jadi cawapres masih terbuka," terang Hasan.

"Taruhan boleh, taruhan Alphard juga boleh," pungkasnya. (int)


Tags

Loading...
Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.