Usai DiGroundbreaking Jokowi, Lahan JIS Terbengkalai dan Jadi Tempat Sampah


AWAS IKLAN KHUSUS DEWASA!:
Loading...

 


Perihal pembangunan Jakarta International Stadium (JIS) terus saja dipermasalahkan warganet, terlebih bagi para pendukung Jokowi dan Ahok. Mereka terus-terusan mengklaim JIS hasil kerja Jokowi - Ahok.

Padahal, Anies Baswedan pun tidak pernah mengklaim JIS hasil kerjanya.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu hanya menyebut JIS sebagai stadion mahakarya atas kerja keras dan kerja luar biasa dari anak negeri, atas visi dan cita-cita yang digantungkan kepadanya.

“Semoga stadion ini jadi ladang pahala, ladang keberkahan bagi semua yang memanfaatkannya,” harap Anies Baswedan.

Di masa sebelum Anies Baswedan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah beberapa kali merencanakan pembangunan sebuah stadion bertaraf internasional.

 Lokasi yang dipilih ada di lahan eks Taman Bersih Manuasiawi Berwibawa (BMW) di Kelurahan Papanggo, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Namun, pembangunan stadion tak kunjung dilaksanakan karena lahan masih dalam status sengketa.

Kompas.com pernah menyambangi lahan yang luasnya disebut mencapai sekitar 66,6 hektare itu, beberapa tahun lalu.

Lahan dipagari tembok yang diperkirakan setinggi sekitar 2,5-3 meter. Di balik tembok inilah, tampak hamparan lahan yang sangat luas.

Namun demikian, lahan untuk stadion di eks Taman BMW kini lebih tampak seperti tempat pembuangan akhir sampah. Sejauh mata memandang, hanya tampak hamparan sampah yang sudah seperti menggunung. Saat berada di lokasi itu, bau tak sedap sangat menyengat.

Pada beberapa sudut, tampak gubuk-gubuk semi permanen yang biasa digunakan pemulung untuk beristirahat.

Meski sebagian besar lahan tampak seperti tempat pembuangan akhir sampah, di salah satu sudut terlihat ada sejumlah truk peti kemas yang sedang parkir.

Erwin (54), adalah seorang pemulung yang biasa beraktivitas di lahan eks Taman BMW. Setiap harinya, dia mengumpulkan kertas maupun plastik bekas.

Menurut Erwin, kertas bekas dihargai Rp 800 per kilogram. Dalam jumlah berat yang sama, plastik dihargai sedikit lebih mahal, yakni Rp 2.000 per kilogram.

"Bawanya ke pengepul," kata dia saat ditemui di lokasi.

Erwin tidak tinggal di Taman BMW. Dia dan keluarganya menetap di sekitar Taman Volker, masih di kawasan Tanjung Priok.

Gubuk yang ditempati Erwin hanya digunakan untuk dirinya dan beberapa pemulung lainnya saat hendak beristirahat.

Pemulung lain yang juga tampak beristirahat di gubuk yang ditempati Erwin adalah sepasang suami istri, Sandi (57) dan Muini (56). 

Beberapa tahun lalu, Sandi dan Muini beserta anak-anaknya pernah tinggal di lahan eks Taman BMW.

Namun, tempat tinggal mereka digusur oleh Pemerintah Provinsi DKI. Sandi dan keluarganya kemudian membangun tempat tinggal di bantaran Waduk Pluit selama beberapa tahun.

Sampai akhirnya pada 2013, tempat tinggal mereka kembali digusur karena adanya normalisasi waduk.

Namun, Sandi dan keluarganya mendapat jatah unit hunian di Rusunawa Marunda, Cilincing, Jakarta Utara.

"Sekarang udah tinggal di Rusun Marunda," ujar ayah tiga anak tersebut.

Muini menyebut rencana pembangunan stadion di Taman BMW sudah didengarnya sejak lama. Tepatnya saat dilakukannya penggusuran terhadap tempat tinggalnya.

"Dulu banyak rumah di sini, bagus-bagus. Permanen semua. Tapi dibongkar. Katanya buat stadion tapi sampai sekarang enggak dipakai juga tuh," ujar dia.

"Ada satu RW kali," ujar Sandi menambahkan.

Sengketa lahan di Taman BMW melibatkan dua pihak, yakni antara Pemprov DKI dan PT Buana Permata Hijau.

Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta Andri Yansyah pernah menyebut truk-truk peti kemas yang diparkir di Taman BMW adalah truk-truk yang berada di atas lahan yang dikuasai PT Buana. Truk-truk itu merupakan milik dari sejumlah pihak yang menyewa dari PT Buana. 

Berikut gambar perbedaan BMW Stadium dan JIS.


(dok.kompas)

Baca Juga
AWAS IKLAN KHUSUS DEWASA!!!:
Loading...