Parah! BH yang Beredar di Indonesia Ternyata Import dari China, Kita Nggak Bisa Bikin...


AWAS IKLAN KHUSUS DEWASA!:
Loading...

 


Produk impor jilbab hingga dalaman beha atau bra antara lain dari China masih menguasai pasar tekstil besar Tanah Abang. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (API) Jemmy Kartiwa Sastraatmadja mengungkapkan bahwa produk tekstil di segmen itu masih didominasi produk impor.

Di sisi lain, Jemmy mengakui, industri di dalam negeri memang belum fokus menggarap ceruk pasar ini. Dan, lebih memilih memproduksi produk tekstil lainnya.

"Bra, underwear, wah itu banyak impor. Memang belum kami dalami karena kan fokus masih ke 'pie' besar. Itu kan kecil, item per kilonya kecil ya. Saya masih benahi 'pie-pie' besar, yang pengaruh ke produsen atau rakyat Indonesia yang membuatnya," katanya kepada CNBC Indonesia, Jumat (18/3/22).

Produk seperti bra maupun underwear, ujarnya, membutuhkan lebih sedikit bahan kain dibandingkan produk lain seperti jaket maupun celana jeans. Karenanya, industri di dalam negeri belum begitu fokus pasar bra. Apalagi dari sisi teknologi juga berbeda.

"Kain buat underwear beda dengan baju. Mesinnya disebut mesin wool knitting, industri wool knit di dalam negeri grow," sebutnya.

Meski demikian, Jemmy mengakui, pasar bra dan celana dalam adalah ceruk pasar yang besar. Dan, pengusaha tekstil di dalam negeri juga sudah mulai mengalihkan pandangannya ke pasar ini.

"Ini potensi besar, tetap berpotensi. Teman-teman memang sudah membuat ada produsen kain underwear di Indonesia, seperti Sipatamoda salah satunya, dia produsen untuk underwear," ujar Jemmy.

Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia, produk pakaian dalam baik bra maupun underwear mengisi lapak-lapak mulai dari Jembatan Penyeberangan Multiguna hingga ke beberapa blok pasar Tanah Abang.

"Beha itu impor semua itu, sama hijab juga sebagian besar impor," ujar Ricky pedagang di Jembatan Multiguna Tanah Abang kepada CNBC Indonesia di lokasi, Kamis (17/3/22). (CNBC)

Baca Juga
AWAS IKLAN KHUSUS DEWASA!!!:
Loading...