Gara-gara Tweets Jokowi, Nasib Indonesia di Mata Dunia Malah Makin Ruwet...wet...wet...!


AWAS IKLAN KHUSUS DEWASA!:
Loading...

 


Posisi Indonesia di dunia terkait perang Rusia - Ukraina semakin ruwet. Di satu sisi, Ukraina meminta dukungan Indonesia dibarengi ancaman.

Di sisi lain, sikap Indonesia yang mencoba berada di tengah, malah disikapi berbeda oleh Rusia.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Georgievna Vorobieva setuju dengan pernyataan Presiden Joko Widodo bahwa perang hanya menyengsarakan umat manusia dan membahayakan dunia.

Namun menurutnya, pernyataan itu seharusnya ditujukan kepada negara-negara Barat dan pemerintah Ukraina.

“Sangat setuju dengan Presiden Indonesia bahwa tentu saja perang adalah sebuah tragedi dan Rusia lebih tahu daripada banyak negara lainnya bahwa kami banyak menderita selama Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Kami tahu apa perang itu,” ungkap Dubes Vorobieva dalam wawancara dengan jurnalis KOMPAS TV Frisca Clarissa, Sabtu (5/3/2022).

“Tapi menurut saya, pernyataan ini harus ditujukan yang pertama kepada negara-negara Barat dan Kiev yang telah melakukan perang di Luhansk dan Donetsk selama delapan tahun dan mereka yang telah memulai dan mencoba mendorong Ukraina berperang dengan Rusia,” sambungnya menyebut dua wilayah separatis di Ukraina yang didukung Rusia.

Pada 24 Februari 2022, Presiden Jokowi mengunggah cuitan lewat akun Twitter resminya terkait krisis Ukraina. Pada hari yang sama, Rusia memulai serangan militer ke Ukraina.

“Setop perang. Perang itu menyengsarakan umat manusia, dan membahayakan dunia,” bunyi cuitan Jokowi yang juga mencuit pesan yang sama dalam bahasa Inggris.

Dubes Rusia juga meminta negara-negara sahabat untuk tidak mengikuti emosi dalam menanggapi perang Ukraina-Rusia.

“Saya ingin semua mitra (berbagai negara) untuk tidak menyerah kepada emosi. Tapi, seperti yang saya katakan, itu adalah reaksi normal jika merasa ngeri dengan perang. Tapi saya ingin orang-orang tahu apa yang ada di balik tindakan Federasi Rusia ini dan untuk mengerti bahwa kami tidak ingin perang,” katanya.

Ketika ditanya apakah agresi merupakan cara satu-satunya untuk menyelesaikan ketegangan, Vorobieva menolak menyebut apa yang dilakukan negaranya di Ukraina sebagai sebuah agresi.

“Ini bukan agresi. Ini respons terhadap tindakan agresif Kiev dan Barat,” ujarnya.

Dubes Vorobieva mengatakan tidak tahu kapan perang akan berakhir. Namun, dalam wawancara yang sama, dia mengatakan serangan militer negaranya ke Ukraina hanya akan berakhir jika target Moskow tercapai yaitu demiliterisasi dan ‘denazifikasi’ Ukraina.

“Target kami sangat jelas, demiliterisasi dan ‘denazifikasi’ Ukraina sehingga Ukraina menjadi negara yang netral,” imbuhnya. Moskow menuduh Kiev mendukung ideologi Nazi yang menurutnya tersebar luas di Ukraina.

Baca Juga
AWAS IKLAN KHUSUS DEWASA!!!:
Loading...