Terbongkar! Buzzer Dikerahkan Serang Partai Demokrat demi Menaikkan Moeldoko


Loading...

 


Pengakuan Buzzer dalam upaya kudeta Partai Demokrat dijadikan studi kasus pada riset antar negara tentang cyber troop.

Artikel  berbahasa Ingris berjudul “A ‘digital coup’ inside Partai Demokrat” yang ditulis oleh seorang dosen Universitas Diponegoro (Undip) yang juga Direktur Riset Media dan Politik LP3ES, Dr. Wijayanto, yang dipublikasikan dalam jurnal bergengsi di kawasan Asia Tenggara, Inside Indonesia, mengungkap adanya pengakuan buzzer yang melakukan kampanye digital secara terencana untuk mendegradasi Partai Demokrat dan kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), (12/10/2021).

Beberapa influencer media sosial yang mereka wawancarai mengaku menjadi bagian dari kampanye ini.

Dilaporkan seorang ‘buzzer’ yang mengoperasikan selusin akun Twitter palsu, mengakui ada tim [buzzer] yang telah dikerahkan untuk mendukung penyelenggaraan Kongres Luar Biasa (KLB) kelompok KSP Moeldoko.

Operasi buzzer ini berlangsung tidak hanya selama satu minggu, tetapi dilakukan beberapa bulan sebelum terselenggaranya KLB.

Buzzer ini lebih lanjut menjelaskan bahwa salah satu taktik yang mereka gunakan adalah doxing. Palsu atau tidak, adalah taktik buzzer umum untuk mengalihkan perhatian publik dan merusak reputasi lawan, terutama atas dasar moral.

Sementara itu, meski Moeldoko dan para pendukungnya tidak berhasil menguasai partai, namun mereka berhasil melemahkan salah satu partai oposisi utama.

Kampanye buzzer pro-Moeldoko memberikan gambaran yang jelas tentang efek merusak yang dapat ditimbulkan oleh propaganda media sosial terhadap politik demokrasi.

Di tengah kekhawatiran yang berkembang tentang melemahnya oposisi demokratis di Indonesia, propaganda media sosial terbukti berperan dalam memperkuat dominasi politik koalisi di belakang Presiden Joko Widodo yang sudah cukup besar.

Sekali lagi, operasi pasukan siber yang dapat dibuktikan – dalam hal ini ditujukan untuk menyudutkan dan mengkooptasi partai oposisi terbesar di Indonesia – melayani kepentingan elit penguasa.

Dalam hal ini, propaganda media sosial yang terorganisir dapat dianggap sebagai ‘inovasi otoriter’ – seperti yang disebut oleh para sarjana Nicole Curato dan Diego Fossati sebagai metode otoriter baru yang digunakan oleh rezim yang dipilih secara demokratis di Asia Tenggara – yang selanjutnya berkontribusi pada melemahnya demokrasi di Indonesia.

Sebagai info, Inside Indonesia adalah majalah triwulanan untuk pembaca umum tentang masyarakat Indonesia, yang mencakup budaya, politik, ekonomi, dan lingkungan mereka. Didirikan di Melbourne pada 1983, para Indonesianis dari berbagai negara seperti Australia dan Belanda menjadi editor atau anggotanya. Orang-orang seperti Gerry Van Klinken, Ed Aspinall, Anton Lucas, Yatun Sastramidjaja dan banyak yang lain. Merupakan platform dimana para scholars dari seluruh dunia memaparkan temuan awal penelitian mereka. (ind)

Baca Juga
Loading...