Punya Kebun Sawit Terluas di Dunia, tapi Rakyat Menjerit karena Harga Minyak Goreng Naik Gila-gilaan


Loading...


Kemarin bakul/ penjual peyek bilang harga peyeknya naik dari 10 ribu menjadi 13 ribu. Mengapa harga peyek naik? Karena harga minyak goreng naik.


Di tempat lain, ibu -ibu yg keluar pasar habis belanja juga pada ngomel-ngomel, karena harga2 naik, termasuk harga mintak goreng.


Inilah praktek kartel yg tdk pernah diatasi pemerintahan siapapun. Hampir semua produk yg menguasai hajat hidup orang banyak termasuk minyak goreng, dikuasai konglomerat alias para Naga.


Memang paradoks2 di Indonesia terjadi dimana-mana. Bayangkan luas daratan kita itu 1,9 juta KM2. Lha kok kita  pernah di era setelah reformasi punya perkebunan sawit dng luasan nomer 2 atau nomer 3, dan nomer satunya (1) di dunia malah Malaysia yg luas negaranya hampir sama dengan Jawa Tengah. 


Kok bisa Malsysia jadi nomer 1? Karena di zaman si Ibu itu memerintah banyak perusahan BUMN di bidang perkebunan sawit collapse, akibatnya banyak yg dibeli perusahaan perkebunan Malaysia  antara lain Gutrie . 


Tak  hanya perusahan perkebunan sawit BUMN, Gutrie juga membeli kebun milik perusahaan2 konglomerat   ( swasta) yg jadi tahanan BPPN, karena tersandung BLBI yg  kemudian dilelang negara dan dibeli murah oleh Gutrie. Ada perkebunan milik Salim misalnya jadi "tahananan" BPPN kemudian dilelang hanya 3,3 Triliun, padahal investasinya habis 6 Triliun.😩


Jadi Malaysia pernah memiliki perkebunan terluas di dunia, tapi kebunnya ada di Indonesia😭😭.

 

Karena harga CPO  dunia naik terus, apalagi kebutuhan China akan CPO sangat besar ( karena penduduknya banyak), mulailah konglomerat yg mulai bangkit  dari masa krisis , melakukan pembabatan hutan  sampai land  clearing besar-besaran, dan puncaknya di awal pemerintahan Pak Jokowi. Apa yg terjadi? Indonesia  menjadi juara nomer satu sebagai negara yg punya perkebunan  sawit terlluas di dunia yaitu 14,6 juta hektar.


Lalu dengan menjadi juara  kebun sawit terluas di dunia, apakah rakyat Indonesia lantas bisa memperoleh harga minyak goreng termasuk margarine murah? TIDAK! Paradok lagi yg terjadi , memiliki kebun  sawit terluas di dunia, tapi rakyat menangis karena harga minyak goreng sepanjang sejarah tdk pernah turun, tapi naik terus, bahkan sekarang naiknya gila-gilaan per liter minyak goreng  kemasan ada yg sampai 35  ribu per liter, dan yg curah 18,5 per liter.


Mengapa harga minyak goreng  naik terus, karena konglomerat yg punya pabrik minyak dan sekaligus memiliki kebun sawit ( menguasai  hulu -hilir komoditas  sawit yaitu dari kebun sawit sampai pabrik minyak goreng seperi Salim Grup, Sinar Mas Grup , Dl Sitorus dll, lebih suka hasil sawitnya yaitu berupa CPO di ekspor terutama ke China yg haus CPO sebagai bahan baku industri oleochemichal  dan induatri makanan.


Nah kalau toh mereka mengolah utk minyak goreng maka harga bahan baku berupa CPO yg dihasilkan dari kebun sawit di Indonesia , harga bahan bakunya dihitung dng standart harga CPO dunia/internasional.


Oh ya biar gak bingung saya kasih gambaran betapa kebun sawit ini seharusnya menjadi "surga" yg membangkitkan  ekonomi Indonesia, tapi sekarang malah konglomerat yg menguasai karena tau betapa lezatnya bisnis sawit.


Jadi kebun kelapa sawit itu akan menghasilkan bulir2 buah sawit segar. Dari buah sawit diolah menjadi CPO, dari CPO ada yg langsung diolah menjadi bahan makanan seperi minyak gorang, margarine dll, namun sebetulnya CPO ini akan bernilai tinggi kalau diolah menjadi bahan yg disebut  oleochemical. 


Oleochemical ini merupakan bahan baku utk industri kosmetik dari mulai lipstik sampai besak  hingga pelembab semua memakai bahan baku oleochemichal, selain bahan kosmetik oleochemichal juga merupakan bahan baku utk kebersihan mulai dari sabun  mandi, pasta gigi,  shampo, sabun colek, obat pel sampai pemberaih WC, kaca semua memakai bahan baku oleochemical. Pokoknya semua pruduk yg dihasilkan  Unilever, P&G, Wings  itu menggunakan bahan baku utama oleochemical. Demikian juga dng obat-obatan, juga ada yg menggunakan bahan baku oleochemical.


China yg berpenduduk sampai miliaran namun tidak memili kebun kelapa sawit, tentu menjadi surga utk tujuan ekspor CPO milik para konglo.Tak pelak di China  yg tidak punya kebun sawit , malah banyak berdiri pabrik2 oleochemichal dan  tentu indutri hilirnya yg berbahan baku oleochemichal   seperti pabrik kosmetik, pabrik bahan2 kebersihan dan pabrik obat. Nah ini paradoks  lagi,  kebun sawit dan  pabrik pengolahnya utk menghasilkan  CPO ada di Indonesia, namun industri oleochemical dan industri hilirnya ada di China dan negara2  lain!

 Beberapa pabrik berbahan baku CPO yg di China , ada yg dimiliki konglomerat Indonesia😭.


 Sebenarnya kalau kita ini bisa mengolah kekayaan alam kita dari kebun sawit saja  kita rasanya gak mungkin punya utang LN yg demikian besar. Apalagi kalau kekayaan tambang kita  bisa semua dikelola negara dan diekspor duitnya  masuk kas negara ditambah hasil laut kita yg  hanya diambil nelayan kita  dan BUMN kita, maka  rasanya Indonesia akan nol hutang, rakyat akan makmur mulai dari pendidikan , bahkan sampai berobat bisa ditanggung  pemerintah 100 persen oleh negara rasanya. Tak hanya itu  seperti bunyi pasal 34 UUD 45 rakyat miskin semua mjd tanggungan negara.


Namun apa yg terjadi? Berpuluh -puluh tahun semua anugerah Allah berupa kekayaan alam utk  bangsa dan rakyat Indonesia dieksploitasi dan dibawa ke LN. Hasil tambang diekspor duitnya juga gak balik ke Indonesia,  hutan demikin bar -bar ditebang pohonnya  kemudian langsung dalam bentuk gelondongan diekspor, duitnya bukan utk menanam hutan kembali sebagian, tapi mbuh utk apa? Lalu begitu hutan habis dibabat, kemudian ditanami sawit yg  konsesi lahannya diberikan kembali ke konglomerat. Saat dari  sawit diubah menjadi CPO langsung diekspor dan lagi2 entah duitnya dimana? Laut kita pun berpuluh -puluh tahun dieksploitasi habis2-an oleh  kapal2  berbendera Indonesia namun aslinya kapal2 maling. Kok bisa mereka ambil ikan kita, ya karena oknum2 penjaga  laut kong kalikong dng para bajak laut tersebut.

 

Andai kekayaan alam itu  dikelola seperti negara Singapura, Iran, Malaysia dll, dimana mayoritas kekayaan alam dikelola negara, Insyallah tidak ada rakyat miskin di Indonesia.😭Tapi inilah nasib negara di tangan oligarki, dimana politik diatur para konglomerat, maka yg terjadi pemerintah "nyerah/tunduk" pada aturan dagang para konglomerat. Ekonomi seluas-luasnya dikuasai konglomerat dan  asing , dan rakyat dapat remahannya saja.


Kembali ke laptop soal kebun sawit, Andai saya Pak Jokowi. Maka saya akan membuat sejarah baru meroketkan atau menimal menormalkan perekonomian kita lewat  penguasan perkebunan sawit oleh negara ( BUMN) , sebelum masa tugas  saya berakhir tahun 2024. Pasti ini akan luar biasa.  


Langkah2 yg akan saya ambil antara lain:


1. Saya support habis-habisan BUMN -BUMN di bidang perkebunan, bahkan BUMN2 yg merugi saya akan alihfungsikan menjadi  perusahaan BUMN dan semua menggarap kebun sawit. Buat konsorsium BUMN utk menjadi pelaku perkebunan sawit dari hulu -hilir.


2. Saya akan minta Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, utk menginventarisir lahan -lahan utk bisa ditanami sawit ( di luar hutan lindung). Dan ini penting mengecek ulang HGU lahan2 bekas hutan yg sdh puluhan tahun dikuasai konglomerat. Kalau sampai puluhan tahun lahan itu dikuasai para konglomerat maka langsung cabut alihkan ke BUMN, karena HGU itu mustinya hanya 20 tahun dan hanya sekali bisa diperpanjang.


3.  Saya  akan  libatkan  LSM  utk mengecek lahan -lahan yg kini dikuasai para konglomerat dan asing . Kemudiab yg terindikasi merusak lingkungan langsung cabut izinnya dan saya instruksikan utk dialihkan ke  perusahaan BUMN.

 

4. Setelah peroleh  lahan, maka akan saya akan minta bank -bank BUMN utk menyetop pembiayaan ke perusahan perkebunan sawit  swasta atau para konglo dan mengalihkan utk menbiayai perusahaan BUMN yg akan mengagrap perkebunan sawit.


5. Utk menyerap tenaga kerja terutama di wilayah  Jawa yg banyak penduduknya  agar tertarik kerja di kebun yg rata2 di luar Jawa, maka saya akan minta  perusahaan BUMN yg akan menanam sawit utk menerapkan sistem PIR ( Perkebunan Inti Rakyat). Rakyat gak hanya dapat upah tapi juga dapat bagian dari  hasil panen yaitu berupa buah sawit saat panen, dan rakyat /pekerja bisa menjual bagiannya ke perusahaan lagi.


6. Saya akan melarang  perusahaan BUMN  yg menggarap perkebunan sawit itu utk mengekpor mengasil kebun sawit dalam bentuk CPO, tapi harus jadi komoditas setengah jadi ( oleochemichal) dan industri hilir dari mulai bahan makanan ( minyak/margarine), industri kosmetik, industri alat2 kebersihan , dan obat -obatan.


 7. Lalu dari mana saya dapat duit utk bangun pabrik-pabrik itu? Saya akan STOP proyek2 infrastrutuktur termasuk kerena api cepat China Jakarta Bandung karena itu tidak membuat perekonomian kita membaik, saya juga akan stop pembangunan jalan tol, dan saya akan tunda pemimdahan Ibu Mota Baru. Satu -satunya infrastruktur yg saya akan bangun adalah jalan-jalan di perkebunan sawit utk menuju ke pabrik2 pengolahan.


Eh tapi saya ini siapa? Saya bukan Presiden tapi hanya rakyat biasa yg hanya bisa mengeluh dan bercerita serta berharap di dinding facebook. Jadi mari kita nangis  lagi😭😭 atas kenaikkan minyak goreng yg gila-gilaan ini.


(naniek s deyang)

Baca Juga
Loading...