Jelang Muktamar NU, SAS Datangi Jokowi : Hanya Pemerintahan Ini yang Berhasil Atasi Radikalisme dan Terorisme


Loading...


Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj dan Presiden Joko Widodo membahas sejumlah isu radikalisme di Istana Kepresidenan Jakarta. Salah satu hal yang mereka bahas adalah pembubaran Front Pembela Islam (FPI).

Said menyanjung kiprah pemerintah dalam menangkal radikalisme dan terorisme. Ia menyebut upaya-upaya itu belum dilakukan pada pemerintahan sebelumnya.

"Dalam masalah menanggulangi radikalisme terorisme pembubaran HTI, FPI, dan terus Densus melaksanakan tugasnya dengan baik, terutama setelah terbunuhnya Ali Kalora. Itu juga kita apresiasi kepada Presiden," ucap Said di Istana Kepresidenan Jakarta, seperti dikutip dari rekaman suara yang diterima, Rabu (6/10).

Said menyebut pertemuan itu juga menegaskan sikap PBNU dan pemerintah yang tidak ingin terpengaruh kepentingan luar. Misalnya, dalam sikap Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina.

Dia berkata Jokowi dan PBNU tegas mendukung Palestina merdeka. Said menegaskan PBNU tak akan mau bekerja sama dengan Israel selama tidak mengakui Palestina.

"Selama Israel tidak mengakui negara Palestina, maka Indonesia tidak akan mengakui negara Israel secara politik," tuturnya.

Said juga menyanjung sejumlah pencapaian kebijakan pemerintah. Ia mengapresiasi program vaksinasi Covid-19, pembangunan infrastruktur, hingga penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Papua.

Pertemuan itu juga membahas Muktamar NU ke-34 di Lampung, akhir tahun ini. Said menyebut PBNU mengharapkan dukungan Jokowi dalam gelaran itu.

"Bukan dukungan calon, dukungan muktamar agar lancar," ucap Said yang berencana kembali mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU.

(wis/wis)

Baca Juga
Loading...