Meski Diserang Secara Terencana, Berpola dan Terus Menerus, Anies Malah Bikin BuzzeRp Kejang-kejang


Loading...

 


Haters Anies sebenarnya jumlahnya gak banyak. Ini bisa dilihat ketika ada aksi demo di balaikota. Paling 10-30 orang. Saat musim banjir, agak banyak dikit. Kurang lebih 100 orang. 

Hanya karena haters ini agresif dan dikelola secara "premium", maka cukup berhasil membuat gaduh di medsos. Walaupun begitu, atraksi mereka nampak kurang efektif. Gak besar pengaruhnya. Meski kerja buzzernya masif.

Kenapa? Karena suka menggunakan data palsu dan bertentangan dengan fakta. Ini mudah sekali dipatahkan. Sekali fakta dibuka, kelar. 

Selama ini, itulah yang terjadi. Terus, dan berulang-ulang polanya. Apalagi dinarasikan dalam bahasa yang tidak simpatik. Gak nyentuh psikologi rakyat.

Yang paling gres, buzzeRp menyanyi gembira saat Anies Baswedan dipanggil KPK. Setelah diperiksa beberapa jam, Anies berbicara di depan wartawan. 

Kepada tim penyidik KPK, Anies mengaku sudah menjelaskan dengan rinci apa yang dia tahu.

Dia berharap keterangannya membantu KPK menguak dugaan rasuah dalam kasus tersebut.

"Saya berharap penjelasan yang tadi disampaikan bisa bermanfaatkan bagi KPK untuk menegakan hukum, menghadirkan keadilan, dan memberantas korupsi," tutur Anies santai. Tapi bikin buzzeRp kejang-kejang.

Serangan demi serangan yang menerpa Anies Baswedan juga dirasakan aktivis media sosial, Maudy Asmara. 

"Serangan terhadap pak Anies Baswedan itu terencana, berpola dan secara terus menerus.. Mereka takut Pak Anies jadi Presiden," tulis Maudy di akun twitter @Mdy_Asmara1701.

Bahkan Maudy mencatat, buzzeRp sudah mulai memfitnah Anies ketika musim kampanye gubernur dimulai. Yaitu sejak 2017.

"Cek dari sini 👇2017 Densi menakuti warga kalau Anies-Sandi menang, Jakarta akan menjadi kota seperti Suriah. Fakta 2021 Jakarta malah menjadi kota paling Demokratis," sambung Maudy.

Mempekerjakan buzzeRp untuk mendongkrak popularitas dengan cara menutupi kebodohan dan menyerang pihak yang berseberangan tampaknya sudah tidak bisa lagi digunakan dipentas Pilpres.

Karena rakyat sudah muak dan jijik dengan prilaku pemimpin yang kelihatan merakyat, tapi malah bikin negara melarat. Rakyat butuh pemimpin yang mampu menjabarkan ide dengan detail, dan merealisasikan janji saat kampanye. Seperti Anies Baswedan. (wbc)

Baca Juga
Loading...