Pakai Isu Tata Kota Terburuk Buat Serang Anies, PDIP Bagaikan Mandi Air Ludahnya Sendiri


Loading...


Masuknya DKI Jakarta sebagai kota dengan tata kota terburuk versi Platform Arsitektur Rethinking The Future bagaikan angin segar bagi PDIP dan para buzzeRp. Mereka membesarkan isu tersebut untuk menghilangkan berbagai isu yang lebih penting seperti maraknya mural jeritan rakyat dan penegakan hukum koruptor yang menjungkirbalikkan logika waras.

Sayangnya, tingkah laku para politikus dan buzzeRp untuk menyerang Anies Baswedan dengan isu tata kota terburuk sebenarnya bagaikan meludah ke wajahnya sendiri. 

Salah satunya seperti yang dilakukan Gilbert Simanjuntak. Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDIP ini bukan hanya meludahi wajahnya sendiri, namun sudah berubah menjadi mandi ludah sendiri.

"Artinya dunia juga objektif melihat bahwa kota Jakarta makin tidak kuat menopang kebutuhan warganya akan kota yang ramah warga dan lingkungan. Fokus Pemprov harusnya bikin maju kotanya bahagia warganya, hasil ini menunjukkan sebaliknya," ujarnya, Senin (23/8/2021).

Gilbert menilai banyak faktor yang menjadi penilaian. Diantaranya udara bersih, Gilbert mengatakan 191 pohon yang menjadi paru-paru kota Jakarta justru ditebangi, serta integrasi transportasi yang belum sesuai target.

"Faktor penilaian itu banyak, tetapi kalau dirunut memang perencanaan kota kuncinya, jangan menjadi kota beton seperti Bangkok. Faktor yang dinilai antara lain: udara bersih, paru-paru kota ditebangi 191 pohon di Monas dan tidak diketahui kemana pohonnya. Transportasi lancar/udara bersih, transportasi terintegrasi sesuai kampanye harusnya dilaksanakan, tapi jauh dari target 10 ribu Jaklingko dan terintegrasi," kata Gilbert.

Selain itu, RPTRA yang dibangun juga dinilai saat ini tidak terurus. Pelayanan kesehatan yang dinilai belum memadai hingga pembongkaran trotar yang kerap dilakukan.

"Ruang terbuka hijau, RPTRA tidak terurus. Pusat perbelanjaan yang tertata, beberapa di jalan protokol. Museum yang terawat baik, ini kurang mendapat perhatian, justru FE yang prioritas. Infrastruktur, banjir tidak tertangani. Pelayanan kesehatan, banyak korban COVID tidak mendapat pelayanan dan isoman meninggal di rumah dan lain-lain. Budaya, kita tidak punya acara budaya rutin sebagai wahana," kata Gilbert.

"Lingkungan, trotoar dibongkar terus tiap tahun dan lain-lain. Pendidikan, dan infrastruktur, yang ada jalur sepeda, trotoar makin bikin macet, tugu sepeda dan tugu di bundaran HI," sambungnya.

Seharusnya Gilbert beserta politikus PDIP dan buzzeRp tidak serta mengangkat isu tata kota terburuk. Karena akan mengingatkan kita pada kepemimpinan Jokowi sebagai mantan Gubernur DKI Jakarta yang 'melarikan diri' meninggalkan berbagai janji manis. Dan meninggalkan janji manis lainnya.

Seperti : banjir dan macet Jakarta akan mudah diatasi jika jadi pretsiden.

Jakarta Makin Ruwet Sejak Jokowi jadi Gubernur

Pada 2014 lalu, Jakarta juga disebut sebagai tempat dengan desain terburuk di Bumi. Hal itu dikarenakan ruang hijau terbuka kurang memadai, kemacetan lalu lintas yang ekstrem, dan perluasan kota yang tidak terencana.

Kemacetan lalu lintas di Jakarta salah satunya dikarenakan pembangunan infrastruktur. Pemerintah daerah dapat berkontribusi dengan cara mengurangi pelaksanaan proyek jangka panjang.

Ketua Pusat Studi Urban dan Desain (PSUD), Mohammad Danisworo mengatakan, Jakarta merupakan kota terburuk di Indonesia. Meski menyandang predikat sebagai ibu kota, namun Jakarta tidak indah secara visual, dan tidak berfungsi dengan baik karena tata kotanya buruk.

"Semua serba kacau, semrawut dan serampangan. Kualitas hidup penduduknya jangan ditanya," ujar Danisworo kepada Kompas.com, usai proses penjurian Indocement Awards 2014 kategori "Developer Award", Selasa (16/9).

Lebih jauh Danisworo mengungkapkan, Jakarta disebut tidak berfungsi karena untuk menempuh jarak sepanjang 5 kilometer saja diperlukan waktu sekitar 2 jam. "Jakarta menjadi tidak berfungsi dilihat dari segi itu. Pendek kata kualitas fungsi kotanya buruk," kata Danisworo.

191 Pohon Diganti 200.000 Pohon

Sementara mengenai tudingan memotong 191 pohon, sebelumnya Gubernur Provinsi DKI Jakarta Anies Baswedan sudah menerbitkan Peraturan Gubernur Nomor 24 Tahun 2021 tentang Pengelolaan dan Perlindungan Pohon.

Pergub ini diterbitkan bertepatan dengan Hari Bumi.

Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta Suzi Marsitawati menyampaikan, sejak 2019, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menargetkan penambahan 200.000 pohon.

Target penambahan pohon ini diharapkan terpenuhi pada 2022.

Keluar dari 10 Kota Termacet di Dunia

Mengenai kemacetan, Provinsi DKI Jakarta keluar dari daftar 10 kota termacet di dunia versi lembaga TomTom Traffic Index.

Berdasarkan informasi yang dikutip dari situs TomTom Traffic Index, DKI Jakarta kini berada di posisi ke-31 dari 416 kota yang tersebar di 57 negara.

"Menurut TomTom Traffic Index terbaru, Jakarta keluar dari 10 besar kota termacet di dunia. Kini, Jakarta berada di posisi ke 31 dari total 416 kota lain, yang berarti kemacetan semakin berkurang," tulis akun Pemprov DKI Jakarta @DKIJakarta, Minggu (17/1/2021).

Dimasa Anies, Jakarta sedang berbenah

Jakarta memang sedang berbenah seraya memenuhi janji kampanyenya. Banyak hal yang sudah dikerjakan. Tengok saja. Pembangunan Jakarta International Stadium (JIS) yang disebut dapat menjadi babak baru sejarah persepakbolaan Jakarta di masa-masa mendatang.

Belum lagi Jembatan Cakra Selaras Wahana (CSW) di kawasan Jalan Sisingamangaraja, Jakarta Selatan. Kelap-kelip lampu menghiasi seluruh komponen jembatan. Pokoknya indah dipandang mata dan asik untuk tempat tongrokan kawula muda apalagi bagi mereka yang suka jeprat-jepret. Tentunya menjadi objek yang menarik lho!

Terakhir Pemprov DKI Jakarta tengah berencana menata Kawasan Kota Tua sehingga desainnya seperti tahun 1627 hingga 1632."Nanti akan didesain seperti pada saat 1627 sampai tahun 1632," kata Kepala Dinas Bina Marga Provinsi DKI Jakarta, Hari Nugroho dalam webinar bertajuk 'Geliat Infrastrukur DKI Selama Pandemi', Senin (23/8/2021).

Sepertinya politikus PDIP beserta buzzeRp harus memperbanyak membaca dan keluar dari tempurung. 

Atau ingin masalah banjir dan macet tuntas dari Jakarta? Tunggu Anies jadi presiden ya...

Baca Juga
Loading...