Tragis!!! Napi Korupsi Diangkat Jadi Komisaris, BuzzeRp Dungu Hanya Bisa Meringis


Loading...

 


Seluruh warganet nusantara sudah sangat paham dengan sepak terjang Ade Armando dkk membela junjungannya. Setelah sebelumnya kena tikung anak baru di Cokro TV, Faldo Maldini, sekarang malah disalip koruptor yang juga kader PDIP.

Jabatan komisaris yang telah lama dinanti, tak kunjung tiba. Padahal Ade yang awalnya pura-pura goblok, eh... keterusan goblok demi mengalihkan isu yang menyerang pemerintah.

Ade Armando dkk rela jadi bumper. Dihujat habis-habisan warganet. Begitu juga dengan dua sejolinya, Denny Siregar dan Permadi Arya. Bahkan laporan ke polisi bertubi-tubi harus mereka hadapi.

Apakah garis tangan mereka hanya sampai di level buzzeRp saja? Bukankah jabatan komisaris itu bisa disambi sambil tetap ngebuzzeRp?

Banyak kok contohnya. Ya komisaris, ya buzzer juga.

Padahal kedunguan Ade Armando dkk masih satu level dengan Ngabalin. Yang jago ngebacot di segala bidang. Meski banyak nggak nyambungnya.

Tapi mengapa Ngabalin sukses meraih berbagai jabatan mentereng? Apa Ade dkk harus pakai sorban juga?

Hanya waktu yang bisa menjawab...

Sebelumnya, PT Pupuk Indonesia (Persero) menyampaikan pernyataan resmi soal pengangkatan Eks narapidana kasus korupsi Izedrik Emir Moeis sebagai komisaris PT Pupuk Iskandar Muda.

 Pupuk Iskandar tak lain adalah anak usaha dari Pupuk Indonesia, dengan kepemilikan 99 persen seperti yang tercantum di situs resmi perusahaan.

Laman resmi perusahaan juga mencantumkan data diri lengkap Emir Moeis. Ia Lahir di Jakarta pada tanggal 27 Agustus 1950. Menyelesaikan gelar sarjana dari Jurusan Teknik Industri, Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1975 dan studi pasca sarjana MIPA Universitas Indonesia pada 1984.

Emir Moeis juga dijelaskan memulai karir pada tahun 1975 sebagai dosen di Fakultas Teknik Universitas Indonesia dan Manager Bisnis di PT Tirta Menggala. Ia kemudian menjabat sebagai Direktur Utama di beberapa perusahaan swasta pada tahun 1980-2000.

Barulah pada 2000-2013, Emir Moeis menjabat sebagai salah satu anggota DPR RI. Saat menjadi anggota DPR inilah, ia terjerat kasus korupsi. Ia ditetapkan menjadi tersangka pada 26 Juli 2012.

Pada 14 April 2014, pengadilan menghukum politikus PDI Perjuangan ini dengan 3 tahun penjara dan denda Rp 150 juta subsider 3 bulan kurungan. Hakim menilai Emir terbukti menerima hadiah atau janji dari konsorsium Alstom Power Incorporate Amerika Serikat dan Marubeni Incorporate Jepang sebesar US$ 357 ribu saat menjabat Wakil Ketua Komisi Energi DPR.

Pada 5 Maret 2016, Emir Moeis bebas. Kabar keluarnya dari penjara telah diberitakan sejumlah media nasional. (wbc)

Baca Juga
Loading...