Dulu Sia-siakan Ricky Elson, Kini Jokowi Ingin RI Produksi Mobil Listrik


Loading...

 


 Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menyatakan pengembangan era kendaraan bermotor listrik di Indonesia tidak boleh berhenti hanya memiliki dan memproduksi bahan baku saja yang berupa nikel.

Ke depan, program percepatan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) harus benar-benar dilaksanakan sehingga adanya nilai tambah, dengan memanfaatkan teknologi sampai pada produksi kendaraan listrik.

"Kita memiliki kesempatan besar dalam membangun industri mulai dari hulu sampai hilir. Sebagai contoh pertambangan nikel, kita punya tambang nikel tapi tidak boleh berhenti di situ saja," ujarnya pada konferensi virtual, Selasa (10/8/2021).

Ironisnya, beberapa waktu lalu, pemerintahan Jokowi malah menyia-nyiakan mobil listrik yang digagas anak bangsa, Ricky Elson.

Pria pencipta mobil listrik Selo tersebut lebih memilih menjauh dari keramaian kota dan menetap di sebuah desa di Ciheras, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Dan meyibukkan diri dengan ngangon atau beternak dan melakukan berbagai aktivitas bersama warga Ciheras yang dia sebut Lentera Bumi Nusantara.

Sejumlah kesibukannya di Lenteran Bumi Nusantara itu kerap diunggah Ricky Elson ke sejumlah media sosial, termasuk akun Instagram pribadinya.

Namun ternyata, di balik kesibukannya tersebut, pria berkacamata dengan rambut gondrongnya itu masih memikirkan mobil listrik Selo.

“Banyak yang berkomentar, pada saya ‘alah lu kalo mau ngembangin mobil listrik kayak Tesla lah, ga usah ribut ribut, ga ngerepoti pemerintah’. Saya hanya tertawa,” buka Ricky Elson dalam tulisannya di akun Facebook.

Ia mengisahkan banyak hal, terutama soal kesulitan pengembangan mobil listrik dalam linimasa media sosialnya. Ricky menyatakan, ia ingin mengutarakan buah pikirannya dalam hal teknologi mobil listrik dan tak mau membahas lebih jauh soal regulasi. 

Namun, Ricky berharap peran serta pihak-pihak terkait untuk memudahkan bagaimana pengadaan beberapa komponen vital dalam pengembangan mobil listrik, seperti baterai dan lain-lainnya.

Kata Ricky, tidak hanya dirinya yang merasa kesulitan untuk mendapatkan komponen dan baterai. Pasalnya, hal itu juga dirasakan lima universitas yang ditunjuk pemerintah dalam Program Pengembangan Mobil Listrik Nasional (MoLiNa).

Ya, pemerintah memang melibatkan lima kampus untuk kajian dan purwarupa proyek mobil listrik, di antaranya Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gajah Mada, Universitas Negeri Sebelas Maret, dan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS).

“Apalagi kami, pengembang individual. Yang hanya bermodal semangat untuk membuktikan kita pun bisa. Jangan tanyakan sampai perencanaan untuk bikin pabrik atau kapan penjualannya,” ucap Ricky. 

Lebih lanjut, dia dan rekan-rekannya hanya sekadar ingin membangkitkan semangat generasi muda berkarya di bidang teknologi. Keterbatasan SDM (sumber daya manusia) dan dana sudah pasti. Namun, dia masih terus mencoba.

“Lalu di mana kami butuh dukungan pemerintah. Misal, untuk pengembangan mesin (electric motor), kami harus melakukan benchmark beberapa merek manufaktur yang saat ini unggul, seperti UQM atau Remy inc.. Atau untuk pengujian performa baterai, harus memilih beberapa vendor, seperti Samsung, Panasonic, Sony atau LG,” kata dia.

Ricky menerangkan, untuk mendapatkan produk-produk yang disebutkan di atas itu rupanya tidak mudah. Bahkan, mereka harus menggunakan jasa buyer atau orang orang yang sudah terbiasa mengimpor.

“Lalu mudahkah? Enggak. Enggak usah tanyalah cerita kesedihan kami berurusan dengan Bea Cukai,” tuturnya.


Ditolak karena Emisi, Ini Spesifikasi Mobil Listrik Selo

Malaysia telah menyatakan minatnya untuk membeli prototype mobil listrik Selo.

Desainer mobil listrik Selo terhadang birokrasi dalam pengadaan komponen yang harus didatangkan dari luar negeri.

Sebelumya, mobil listrik Selo hasil karya Ricky Elson dianggap tidak lolos uji emisi dan dinyatakan tidak layak produksi oleh Kasubdit Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Sarjono Turin.

Saat itu, Sarjono sempat mengatakan jika mobil listrik ini hanya mampu berjalan dengan kecepatan 29 km/jam dan bila dikendarai lebih dari 80 km/jam akan berdampak overheat.

Hal ini pun mematahkan rencana sebelumnya yang menyatakan jika mobil listrik Selo akan naik produksi pada 2015.

Padahal mobil sport ini dibangun dengan kandungan komponen lokal hingga 70 persen yang meliputi kompartemen bodi dan sebagian interior. Adapun sisanya adalah baterai dan motor listrik sebagai penggerak kendaraan yang didatangkan secara impor.

Motor listrik ini pun memiliki performa yang cukup gahar karena diklaim mampu menghasilkan daya sebesar 182 Tk. Transmisi yang digunakan adalah otomatis 6-percepatan. Dengan dukungan jantung mekanis tersebut, Selo mampu digeber hingga kecepatan 220 km/jam.

Selo didukung dengan baterai 360V yang dapat digunakan menempuh jarak sekira 250 km. Adapun proses pengisian daya listriknya butuh waktu hingga empat jam hingga terisi penuh. (wbc)

Baca Juga
Loading...