Wartawan Senior : Petani Makin Terpuruk, Anies Mau Bantu kok Malah Dibully?


Loading...


Saat recovery  utk kesehatan saya di kampung saya kadang didatangi para petani sekedar curhat, meski terpaksa duduknya jauh -jauhan.

Dunia media baik media massa maupun medsos semua disibukkan dng berita Covid dan wacana Presiden tiga periode. Hingga terlupakan bagaimana nasib petani yg ternyata sangat terpuruk saat ini.

Ada dua masalah besar yg menghantam petani kita saat ini, pertama soal serangan hama wereng dan yg kedua  yaitu yg selamat tanaman padinya  dari hama wereng, ternyata malah tdk bisa menjual hasil panennya, karena pedagang semua sekarang tutup.

Kita bahas dulu masalah serangan hama wereng. Di desa -desa serangan hama wereng saat ini lebih ganas dari serangan covid.  Penyebabnya karena iklim. Cuaca  yg amat sangat panas di siang hari dan malamnya hujan, membuat hama wereng berkembang biak sangat dashat. Padahal harga obat -obatan utk menyemprot wereng sekarng naik semua.

Sebuah gambaran pilu dr petani gurem, dia menanam padi seluas setengah petak atau 700 meter persegi yg biasanya menghasilkan 10 sak gabah ( 10 karung @ 50 kg) atau 500 Kg, sekarang hanya menghasilkan 1,5 sak alias 75 Kg. Kalau harga gabah basah hanya 3500/ Kg berarti utk satu kali musim panen (3,5 bulan)  petani gurem itu hanya dapat uang 262.500.

Jangankan utk hidup , utk menutup biaya tanam pun sdh merugi. Dan ini "penyakit" masif yg  juga perlu mendapat perhatian pemerintah, karena kalau tdk akan banyak kemiskinan dan gizi buruk rakyat Indonesia.

Adapun,  masalah kedua yg menghajar petani saat ini adalah , TIDAK BISA MENJUAL HASIL PANEN. Sementara itu utk petani kecil sampai besar yg tanamannya terbebas dari wereng alias  bisa panen normal,  ternyata saat ini tidak bisa menjual hasil panennya, karena pedagang gabah/beras dari kecil sampai besar semua "mati" alias istirahat tidak membeli gabah petani karena Bulog ( pedagang membeli beras petani dijual ke Bulog) sudah tutup pintu, dng alasan gudangnya penuh.

Kalau toh pedagang mau beli harganya sangat murah yaitu hanya Rp 420 ribu perkwintal utk gabah kering giling, padahal harga normal  550 ribu perkwintal. Dari pada merugi, petani pun akhirnya hanya menumpuk gabah yg sdh dikeringkan, dan hidup dari berhutang.

Lalu apa yg dikerjakan petani? Ya tetap menanam lagi, karena petani belum banyak yg berani improvisasi ke tanaman polowijo misalnya. Selama ini mereka hanya mengenal 3 komoditas, padi, tebu dan jagung. Harga jagung sebetulnya tdk jatuh, tapi memang lagi tdk musim tanam jagung ( petani banyak yg nanam padi).

Lalu saya bertanya, lha beras yg dijual di pasar - pasar itu dari mana? Para petani yg pintar menduga pemerintah masih meneruskan kontrak impor, jadi kemungkinan  yg beredar sekarang di pasar-pasar merupakan  beras impor.

Masyaallah saya jadi ingat beberapa waktu lalu Anies ( Gubernur DKI) ke Jatim menemui Kofifah ( Gubernur Jatim ) utk kerjasama  bisa membeli beras dari petani Jatim utk mengisi pasar  Jakarta, malah dibully habis dengan mengatakan, Anies kurang kerjaan ngapain Gugernur DKI ke Surabaya. Padahal kalau ini bisa direalisasikan sangat menolong petani. Apalagi memang kenyataannya ribuan ton beras  kebutuhan rakyat Jakarta masih dipenuhi oleh beras impor. Beras lokal hanya 3 persen saja.

Nah, selain memikirkan   Covid atau mengatasi pandemi, pemerintah juga harus memikirkan nasib petani yg sekarang seperti orang yg hidup dalam kondisi "koma" , hidup dari berhutang,  di satu sisi  biaya  produksi sangat tingggi karena pupuk subsidi sulit didapat padahal pupuk non subsidi mahal, di samping itu biaya obat -obatan  tanaman juga mahal.

Saya pribadi berpikir, andai Bansos tdk dikorupsi, dan penyalurannya benar , sebetulnya bisa digunakan utk membeli beras petani, jadi  Bansos disalurkan dalam bentuk barang ( sembako) komoditas petani, sehingga hasil panen petani bisa terserap.

Agar tidak dikorup orang gedean ( pejabat tinggi) , berikan langsung Bansos  ke Kepala Desa , nanti Kepala Desa yg akan belanja Sembako produksi rakyatnya yg tdk laku, termasuk beras. Dan Kepala Desa juga yg akan menyalurkan ke masyarakat yg memang perlu diberi bantuan. Kerja Kepala Desa dalam menyalurkan Bansos dengan cara membeli dr rakyatnya dan memberikan kembali ke rakyatnya ini bisa diawasi oleh LSM dan para Bupati.

Semoga pemerintah segera turun tangan, jadi selain pandemi, pemerintah juga harus memikirkan bagaimana perekonomian rakyat bisa jalan.

 - Naniek S Deyang

Baca Juga
Loading...