Setelah Hoax Ilustrasi dan Eksperimen, Henri Subiakto Babak Belur Dihajar Warganet Karena Merendahkan Pemuka Agama


Loading...

 


Prof. Dr. Drs. Henri Subiakto, S.H., M.Si., pengajar di Universitas Airlangga Surabaya yang juga pakar di bidang Ilmu Komunikasi Politik, menjadi bulan-bulanan warganet.

Pasalnya, tulisan Henri di akun twitter bercentang biru miliknya dinilai provokatif. 

"Seandainya para pemuka agama kita mampu mengajarkan ke umat ttg pentingnya kebersihan lingkungan, disiplin antri, solidaritas & toleransi, Indonesia pasti sdh maju," tulis Henri di akun medsosnya, Minggu (18/7).



Tanpa menunggu lama, kecaman warganet mengalir deras. Serasa menampar, memukul dan menunjang Henri.

"Tanpa kau omong, ulama sudah mengajarkan "...kebersihan adalah sebagian dari iman..." Jika kau Islam,...sepertinya kau 𝙩𝙖𝙠 π™₯π™šπ™§π™£π™–π™ π™£π™œπ™–π™Ÿπ™ž...," sentak Cah Yoyok.

"Msh aja jualan toleransi, di jalan utama P.Siantar kiri kanan jln berdiri gereja, vihara terbesar di asia tenggara ada di medan,Kuil Shri Mariamman merupakan kuil tertua di Sumut dengan usia lebih dari 1 abad ada di medan, mau toleransi apalagi , kompressor ?," ujar Bhatara Narada.

"Jadi maksud anda selama ini Indonesia belum maju gara-gara pemuka agama tidak mampu? Kenapa pemuka agama yang dikambinghitamkan? Dimana peran pengelola negara yang dibiayai pajak dari rakyat?," sambut Teuku Farhan.

"Maaf Prof, anda secara tidak langsung merendahkan para pemuka agama," sambung Noeh Nemen.

"((Seandainya)) semua propesor seperti anda.. Maka IQ nasional terjun bebas. Kebablasan nih si eksperimen," sindir Markonah.


Hoax Ilustrasi

Henry Subiakto juga pernah di-bully netizen lantaran ketahuan mengunggah video dengan narasi hoax atau tidak benar di akun Twitter-nya, pada Selasa (11/5).

Video itu memperlihatkan ratusan orang di memadati bangsal-bangsal sebuah rumah sakit. Prof Henry menulis narasi lewat unggahan itu bahwa kejadian itu terjadi Malaysia.

“Malaysia sedang mengalami pelonjakan pasien COVID-19. Kita tidak boleh jumawa dan egois merasa sehat dan tidak kena,” tulisnya pafa caption foto tersebut.

Mengetahui video itu hoax, staf ahli kementerian komunikasi dan informatika (Kemenkominfo) ini kemudian menghapus cuitan tersebut dan meminta maaf. Prof Henry bilang bahwa video itu hanya sekedar ilustrasi.


Hoax Ekperimen

 Staf Ahli Kementerian Komunikasi dan Informatika sekaligus Ketua Subtim 1 Kajian UU ITE itu pun pernah mengunggah video hoax.

Saat itu, Henri berkilah sedang melakukan eksperimen.

"Sy justru kdg sengaja bereksperimen, apa yg sdh tersebar ckp lama di bnyk WA group & FB, saat sy coba naikkan ke twitter, ternyata reaksi di twitter itu lbh cepat dlm mengoreksi content, terutama pd akun yg jelas pemiliknya. Hanya sejam sdh bnyk yg ngoreksi. Baguslah. Thanks," tulis Henry. (wba)

Baca Juga
Loading...