Katanya di Pemerintah Banyak Orang Pinter, Tapi Ngatasi Antrian Vaksinasi Kok Gak Bisa? Nih Solusinya!!!


Loading...


Lupakan cara lama: Mengumpulkan ribuan orang di satu tempat. Ganti dengan cara baru: kumpulkan sedikit orang di ribuan tempat.

Muhammadiyah punya ribuan gedung sekolah dari SD hingga perguruan tinggi. NU juga punya. Belum lagi sekolah Kristen dan Katholik.

Dewan Masjid Indonesia mencatat jumlah masjid ada 800 ribu. Belum termasuk mushola. Berapa puluh ribu gereja, vihara, pura dan kelenteng.

Indomaret dan Alfamart juga punya gerai sangat banyak. Dua instritusi ini punya lebih dari 30 ribu outlet.

Belum lagi kantor-kantor bank milik pemerintah maupun swasta. Ditambah lagi dengan kantor-kantor milik BUMN seperti Pos Indonesia dan Pegadaian yang saat ini juga tidak boleh beroperasi karena PPKM.

Belum lagi balai-balai desa. Kantor-kantor kecamatan. Kantor-kantor dinas kabupaten dan kota.

Masih kurang? Klinik-klinik di banyak perusahaan besar juga ada. Minimal untuk karyawannya.

Berapa banyak jumlah siswa perawat, calon bidan, mahasiswa kedokteran? Mereka pasti bisa melakukan pekerjaan menyuntik vaksin. Tempatkan di semua titik-titik itu setiap hari. 

Biarlah tenaga medis eksisting mengerjakan tugas lain: Menangani perawatan warga yang sakit. Beban itu sudah berat. Jangan ditambah beban lagi.

Kabarnya saat ini sudah masuk 153 juta dosis vaksin. Apa sulitnya melakukan vaksinasi dengan target 2 juta orang per hari?

Pliss deh... pemerintah pasti bisa menuntaskan vaksinasi massal dalam waktu tidak terlalu lama. Rakyat butuh makan. Tidak butuh penyekatan. Apalagi pidato pejabat. 

Kalau mau.(jto)

Baca Juga
Loading...