Jeritan Rakyat Kecil : Kami Juga Takut Corona, Tapi Lebih Takut Lagi Keluarga Kami Mati Kelaparan...


Loading...

 


Safri (45) hanya bisa termenung. Tangannya yang tak lagi kuat, mencoba menyangka saat ia duduk. Jualanannya diletakkan saja ke lantai.

Deretan jajanan masih terlihat penuh menggantung. Pertanda Safri hanya bisa menjual sedikit.

Matanya memandang kosong ke arah jalanan yang mulai sepi. Padahal hari  belum sore. Efek pengetatan PPKM Mikro di Medan.

Terdengar helaan nafasnya. 

"Sebenarnya orang seperti saya ini juga takut sama corona. Namun keadaan memaksa saya. Saya lebih takut istri dan anak-anak mati akibat kelaparan," ujar Safri membuka cerita.

"Kalau masalah prokes, saya dari dulu selalu terapkan. Meski pun masker saya ini sudah berusia hampir 4 bulan, karena saya cuci lagi," sambung ayah 3 anak tersebut.

Safri yang hanya lulusan SMP itu berjibaku menghidupi keluarganya dengan berjualan jajanan. Sang istri membantu dengan menjadi pemulung.

Hidup yang berpindah-pindah, membuat mereka tak memiliki berkas kependudukan.

Hal itu juga yang jadi alasan ketua RT (kepling) untuk tidak memberikan bansos.

"Kami ini kebetulan numpang hidup di Indonesia. Tapi tak diakui sebagai rakyat. Karena nggak punya surat-surat," pungkas Safri.

"Kami tidak berharap bantuan pemerintah. Karena memang tidak memenuhi persyaratan. Untung saja pengurus masjid di sekitar tempat tinggal sangat peduli. Meski saya bukan seorang muslim," katanya lagi.

Safri hanya segelintir rakyat yang tidak pernah merasakan kehadiran sebuah negara yang katanya sudah merdeka. Masih banyak lagi Safri-Safri di nusantara ini.

Tangan lembut pemerintah tak pernah menyentuh mereka. Yang mereka rasakan hanya tangan kasar pemerintah dengan beragam aturan dan ancaman.

Sampai kapan...????

Baca Juga
Loading...