Puisi Ketua MUI Sumbar Menampar Keras Kaum Munafik, "Tempat Tuan di Halaman Bukan di Anjung Peranginan”


Loading...

 

Buya Prof.Gusrizal Gazahar (Ketua MUI Sumbar)

“Tempat Tuan di Halaman Bukan di Anjung Peranginan”

Di sini anak cucu harimau nan salapan.

Makanya, jangan coba hantarkan Islam Nusantara ke kampung kami !


Anak cucu Imam Bonjol masih bernafas di negeri ini.

Karena itu, janganlah tunjukkan 

penghambaan ke ranah ini !


Fasihnya lidah Inyiek Agus Salim masih menjadi air mandi sehari-hari .

Ingatlah, janganlah bersilat lidah bermain kata dengan kami !


Keteguhan Bung Hatta belum sirna dari bumi ini.

Ketahuilah, tak perlu tuan-tuan  tawar harga diri kami dengan berjuta janji takkan ditepati !


Warisan Buya Hamka belum lah lapuk di dada kami.

Tak usahlah mencoba merayu kami dengan jabatan yang tak akan dibawa mati !


Tegarnya Buya Natsir masih mewarnai danau-danau kampung kami.

Sia-sia saja usaha tuan mengajak kami berkhianat kepada Ibu Pertiwi.


Camkanlah !!!

Putera-puteri Bundo Kanduang tak dilatih mengingkari janji walaupun bersilang keris di dada, sebelum ajal berpantang mati.


Kami pewaris harimau-harimau paderi,

Berpantang menukar aqidah  walaupun nyawa sebagai ganti.


Kami pewaris diplomat-diplomat ulung. Tak kan surut dalam bertarung walaupun meja perundingan mesti digulung.


Kami pedagang-pedagang gigih.

Berpantang menyerah dalam persaingan walaupun harus bersorak di tengah buih.


Kami perantau-perantau tangguh.

Setapak melangkah dari tangga berpantang surut untuk mengeluh.


Kerasnya kami, tak kan sanggup tuan takik.

Lunaknya kami, tak kan mampu tuan sudu.

Kami tak menolak tamu tiba.

Juga tak memampik musuh datang.


Jadi,

Bila tikar tak terkembang, pintu tak terbukak, jenjang tak tertegak,

Tuanlah yang patut bercermin diri.


Lihatlah !

Ukuran patut yang tak terpakai, timbangan adil tak seukuran, gerak pantas tak di badan.


Akhirnya,

Di halaman lah tempat duduk tuan.

Rumah gadang berpantang tuan dudukkan,

Apatah lagi anjungan peranginan.


Itu lah sikap pembawa pusaka Minang.

Warisan bertuah tak kan lekang.

Mungkin keras terlihat bagi orang salah pandang.

Bagi kami, itulah nilai yang tak terbilang. 

Akan menjadi pegangan kokoh seteguh Marapi dan Singgalang..!!!🕌

Baca Juga
Loading...