Mengenal Harun Al Rasyid, Petugas KPK Jenius yang Tak Lulus Wawasan Kebangsaan


Loading...


Harun yang satu ini bukan Masiku. Dia adalah Harun Al Rasyid. Pegawai KPK, penyelidik. Tadi malam, dia beraksi, menangkap Bupati Nganjuk, OTT. 

Dia adalah wakil ketua wadah pegawai KPK. Dia jelas bukan pegawai biasa. Dia mestilah gaul, dikenal dan mengenal sesama pegawai KPK yg ribuan itu. Dan dia, wah, saya senang sekali saat tahu, jika dia pernah menulis buku berjudul: 'Fikih Korupsi: Analisis Politik Uang di Indonesia dalam Perspektif Maqashid al-Syariah'. Sesama penulis, selalu hepi mendengarnya.

Bukan main. 

Kalian tahu apa itu maqashid syariah? Simpelnya, itu tentang kaidah bahwa sesungguhnya syariah bertujuan mewujudkan kebaikan di dunia pun di akhirat. Bahwa seseorang bisa memeluk agama dan keyakinan masing2, bahwa setiap mahkluk tidak boleh disakiti, dizalimi, apalagi dibunuh. Bahwa seseorang bisa mengeluarkan pendapatnya dengan bebas dan aman. Bahwa seseorang harus menghindari dan terhindar dari mencuri, dan sifat2 buruk lainnya terkait harta benda. Dan bahwa2 lainnya.

Maklumin jika saya tidak terlalu pandai menjelaskan soal ini. Saya itu bukan ahli agama, saya itu ahli fiksi. Ilmu agama sy serba tanggung. Tukang ngarang2 dongeng, cerita, begitu2 doang. Tapi setidaknya sy tahu2 sedikit, bahwa kaidah ini sangat mulia.

Apakah kaidah ini radikal? Radikul? Taliban? Teroris? Tentu tidak my friend. Agama Islam itu sangat jauh dari gerakan kekerasan. Hanya karena ada segelintir yg begitu, tukang nge-bom, tidak otomatis jadi semuanya begitu. Agama Islam justeru dilengkapi dgn ahklak tak terbilang. Pentingnya kebermanfaatan bagi sesama manusia, pun kepada alam sekitar. Ketahuilah, bahkan urusan menggunakan air wudhu pun, Islam sungguh menyuruh menyayangi alam sekitar.  Apalagi urusan sesama manusia. 

Harun Al Rasyid ini, bergelar doktor, magister hukum, dll, dsbgnya. Dengan menulis buku ini, jelas terlihat sisi akademis dia. Kita selalu saja menyebut Novel Baswedan, Novel Baswedan, hei, jangan lupa, kawan, di KPK itu juga banyak pegawai lainnya. 

Harun Al Rasyid adalah salah-satu pegawai KPK yg tidak lolos test wawasan kebangsaan. Begitulah. Kok tidak lolos? Apa sebabnya? Yg tahu persis tentu yg memberikan test. Yg membuat soal, yang memberikan pertanyaan. Orang2 yg nge-test ini pastilah pernah menulis banyak buku, pun bergelar akademis, pun berprestasi super. Apalagi soal wawasan kebangsaan, sy yakin orang2 yg ngasih test ini, setara dengan founding father, bahkan lebih. Karena mereka bisa menentukan nasib pegawai2 KPK. Kamu punya wawasan kebangsaan. Kamu tidak. Kamu lolos. Kamu tidak. Bahkan Hatta, dkk dulu tdk bisa menghakimi nasionalisme, wawasan kebangsaan orang lain.

Tadi malam, meskipun dgn status dan masa depan tidak jelas. Meskipun dgn ancaman tersingkir dan disingkirkan, Harun Al Rasyid tetap bekerja, melakukan OTT. Sungguh tidak mudah membayangkan perasaannya belakangan ini. Juga perasaan 74 pegawai KPK lainnya. Setelah mereka mempertaruhkan hidup mati demi KPK. Yes, pegawai KPK itu real dalam beberapa kesempatan bisa mati saat bertugas.  

Harun dkk tadi malam menangkap Bupati Nganjuk, 'kader' PDIP/PKB (ehem, dua partai ini mendadak sudah menolak dia jadi anggota), 'anggota' BANSER (ada foto dia pakai seragam Banser dgn gagah, kayaknya bakal ditolak juga dia), yg konon katanya punya harta ratusan milyar, tapi ehem, diduga korupsi suap-menyuap posisi lurah, camat, dan jabatan2 lain yg nilainya receh saja. 100 juta? 200 juta? Itu cuma omset warteg di pojokan Jakarta selama 10-20 hari. Entahlah, kok bisa, katanya punya harta ratusan milyar tapi segitunya. Ah, malas bahas orang ini, lebih baik bahas penyidik KPK saja.

Tahniah Harun Al Rasyid. Sy berdoa, semoga seluruh pegawai KPK ini langsung jadi PNS. Tidak perlu test2 itu, lupakan, batalkan saja. Buat apa? Toh mereka sudah pernah melewatinya. Seribu pegawai KPK ini utuh, satu paket, mereka tdk bisa kamu pisah2kan. Jadikan semua PNS. Titik.

Dan semoga sebentar lagi Harun satunya, alias Harun Masiku berhasil ditangkap. Harun Masiku ini menarik loh, karena dia bisa 'memaksa' PDIP, mengirim 3x surat ke KPU agar dia jadi anggota DPR pengganti. Dia menyuap komisioner KPU. Yg terima suap sudah masuk penjara. Entah kapan giliran Harun Masiku bernyanyi. Seru kalau dia bisa mentas. Entah dia bakal bernyanyi merdu tentang apa. Nyanyian kotor?

Terakhir, saya hepi sekali melihat KPK masih bekerja dgn segala nasib mereka punya 5 pimpinan sekarang. Sy hepi. Kalian juga hepi sepertinya. Entahlah, kalau ada netizen yg tidak hepi, dan terus nyinyir kepada penyidik2 KPK. Apa sih dosa penyidik KPK ke mereka? Kok bisa mereka teruuus saja kesal. Oh, mereka terlanjur termakan teori2, tuduhan2 jahat itu. Nasib. Begitulah jadinya. Mau sebaik apapun penyidik2 KPK, bagi mereka tetap saja radikal, melindungi pihak tertentu, dll dsbgnya. Mereka halu.

*Tere Liye, penulis novel 'Negeri Para Bedebah'

Baca Juga
Loading...