Penulis Novel 'Negeri Para Bedebah' Kritik Menteri Agama, Pedasnya Puollll!!!


Loading...

 


Jangan lebay sok toleran

Saya sudah menghadiri undangan acara di banyak tempat. 

Saat sy mengisi acara di Flores. Maka ketika susunan acara berdoa, yg dibacakan adalah doa agama Kristen. Saat sy mengisi acara di Bali, saat berdoa, yg dibacakan adalah doa agama Hindu. Saat sy di Aceh, yg dibacakan adalah doa agama Islam.

Biasa saja. Dan memang begitulah bagusnya. Siapa yg mayoritas di sana, pas giliran baca doa, maka doa agamanya yg dibacakan.

Kadang ada yg unik, sy bikin acara di Jawa Barat, doa yg dibacakan tetap doa Kristen, karena lembaga itu memang milik agama Kristen. Welcome. Tidak masalah. Toh sy ngisi acara literasi. 

Tidak ada urusannya dgn agama tempat itu mayoritas apa. Mereka tahu sy muslim, tapi pas doa, tetap pakai agama Kristen. Saya ngisi acara di Papua, jika itu sekolah milik Muhammadiyah, yg dibacakan tetap doa agama Islam. Lagi2, welcome. Tidak masalah.  

Hal ini sudah berlangsung lama. Tahu sama tahu, saling menghormati, saling menghargai. 

Nah, yg repot itu, jika ada yang maksa. Biar super toleran, maka saat susunan acara berdoa, dia minta agama semua dibacakan doanya. Kan repot, buat apa? Buang2 waktu, lamaaaa. Padahal peserta sudah lapar pengin makan. Cukup 1 saja. 

Yang mayoritas. Pun tidak perlu pula giliran, dll, biar adil, besok2 agama lain doanya dibacakan. Buat apa sih? Karena jika di kantor itu mayoritas agama A, kita maksa baca doa agama B, agar seolah2 toleran, itu jadinya tidak nyambung. 

Lagian, gaya banget pengin semua agama dibacakan semua doanya, memangnya peserta baca doa betulan? Itu kadang (maaf) cuma basa-basi doang. Tidek efisien, buang2 waktu.

Apalagi acara2 di kementerian, lembaga pemerintah. Mau semua agama dibacakan doanya, itu kementerian tetap saja biang korup. Karena sejatinya yang lebih mendesak dibacakan adalah: ruqyah setan koruptor di tubuh manusia2nya. Atau jangan2, setan pun minder. Karena manusia2nya lebih korup dibanding mereka.

Tabik.


*Tere Liye

**kalau kita minoritas di sebuah tempat, lantas doa yg dibacakan beda dgn agama kita. maka kita cukup diam saja. tdk usah ikut berdoa. itu tdk akan merusak akidah kita. pun tdk usah maksa2, 'agama sy gimana dong? sy juga mau doa, sy pembicara, kok kalian tdk menghormati agama pembicara acara ini?'. ayolah, ini teh logika yg simpel sekali.

Baca Juga
Loading...