Mengupas Tumpukan Utang Waskita Karya dan Gobloknya Para Komisaris


Loading...
Utang waskita karya


Mari kita bedah laporan keuangan tahun 2020 dari salah-satu BUMN Karya. Silahkan kalian download laporan keuangan mereka. Sudah diaudit, jadi bisalah dipegang data2nya.

Yaitu BUMN Waskita Karya.

Mari kita mulai dari neraca. Per 31 Desember 2020, berapa kas dan setara kas? Sebesar 1,2 Trilyun. Piutang 10 Trilyun. Tagihan bruto kepada pengguna jasa, 11 trilyun. Lantas berapa utang jangka pendek (yg akan segera jatuh tempo) BUMN ini?

 Utang usaha 13 trilyun. Utang bank 24 trilyun. Utang sub-kontraktor 1,5 trilyun. Utang bank jangka panjang yg akan jatuh tempo dibawah setahun 1,2 trilyun, utang obligasi jangka pendek 2,8 trilyun.  

Artinya, semua kas digunakan, piutang cair, dll cair, cukup uangnya buat bayar utang jangka pendek? Tidak. 22 trilyun vs 53 trilyun. Masih tekor 31 trilyun. Kemana nyari talangannya? 

Mudah. Utang lagi saja. Terutama utang jangka panjang. Tapi masalahnya, aduh, utang jangka panjang BUMN ini sendiri sudah 40 trilyun. Bisa nambah lagi? 

Bisa, sepanjang bunganya di atas rata2, mungkin ada yg tertarik ngasih utang. Tapi masalahnya, BUMN ini akan 'menjaminkan' apa sebagai dasar utang baru? 

Karena aset Waskita itu sebagian besar adalah 'Aset tak berwujud', yang disebut dengan 'hak pengusahaan jalan tol' sebesar 54 trilyun. Namanya aset tak berwujud, maka begitulah.

Baik. Kita masih bisa berharap dari pendapatan dan laba usaha. Siapa tahu, di tahun 2021 ini infrastuktur kembali digeber pemerintah.

 Tapi sebentar, mari simak dulu Laporan Laba Rugi BUMN ini. Ayo perhatikan dengan seksama. Pendapatan 2020 turun 50% dari 31 trilyun menjadi 16 trilyun. 

Sementara beban pokok pendapatan tetap tinggi, tidak turun drastis sama dgn pendapatan, dus, BUMN ini rugi sudah hanya dari titik ini, rugi 1,9 trilyun. Ditambahkan lagi beban administrasi dkk, tambah dalam ruginya, jadi 4,3 trilyun. 

Dan kita belum menghitung beban keuangan, alias bayar bunga utang, dll, dsbgnya, yang tahun 2020 saja sebesar 4,7 trilyun, itu naik 1,1 trilyun dari tahun 2019. Maka total jenderal, Waskita Karya rugi 9,4 trilyun.

Saya sih ngeri-ngeri sedap lihat laporan keuangan ini. Karena ketahuilah, bahkan jika tahun 2021 ini Waskita Karya kembali pulih dapat pendapatan 31 trilyun, perhatikan, dengan seksama struktur beban pokok, beban administrasi, dan beban keuangan, perusahaan BUMN ini akan tetap rugi. Lantas kapan itu total utang sebesar 89 trilyun akan dibayar? Rumit jawabnya.

Lantas apa solusinya? 

Sebelum kalian nyinyir ke saya bertanya soal itu, ijinkan sy bertanya dulu hal paling sederhana: itu semua komisaris Waskita Karya bisa tidak baca laporan keuangan ini dengan baik? 

Ini cuma nanya saja. Jangan baper apalagi tersinggung. Karena 12 tahun lalu, saat sy masih sesekali ngajar workshop keuangan dan akuntansi di BUMN, tidak semua dari mereka bisa baca laporan keuangan. 

Dan kalau kalian tidak percaya, tanya saja sama Menteri-nya, dia ehem mungkin juga tahu soal itu. Mungkin seru kalau semua komisaris BUMN ditest simpel ttg rasio keuangan, dll.

Entahlah, apa gunanya mereka jadi komisaris. Jadi, sorry, sy tidak tertarik ngasih jawaban apa solusinya. Buat apa? Sy sepeserpun tidak menikmati gaji dari BUMN ini. 

Sementara posisi komisaris, dibagi2kan begitu saja. Kalian tahu berapa gaji+remunerasi komisaris BUMN ini tahun 2020? Masing2 dari mereka rata2 bawa pulang 2-4 milyar, untuk perusahaan yg sedang rugi 9 trilyun. Apalagi kalau perusahaan itu laba (meskipun laba itu sendiri dari subsidi negara). 

Misal Pertamina, sebelum pandemi, komisarisnya bisa bawa pulang 40 milyar setahun. Kok Tere Liye tahu datanya? Itu semua wajib ada di laporan keuangan dan keterbukaan informasi. 

Silahkan mereka sj yg mikir serius--kalau mau mikir. Toh, besok2, kalau nasib BUMN Karya ini sama seperti BUMN lain yang mendadak mengemis cinta (maksudnya mengemis talangan), tetap sj yg akan membayarnya adalah rakyat semua. Komisaris? Tahu deh.

Lantas berapa tantiem komisaris PT KAI? Hush, kalian jangan nyinyir. Cukuplah Tere Liye, penulis yg buku2nya tidak laku itu yg nyinyir. 

*Tere Liye, penulis novel 'Negeri Para Bedebah'

**pembayar pajak dan rajin lapor SPT. kamu?

Baca Juga
Loading...