Antara Kambing, Cebong, Kadrun dan Koruptor


Loading...


Kalian harus tahu, kebiasaan mengejek lawan politik dgn nama2 hewan itu sudah ada sejak dulu. Kejadian ini telah ada lama. Termasuk yg dialami Agus Salim, salah-satu pahlawan nasional. Dia pernah menghadapinya secara langsung, saat hendak bicara di pertemuan2/rapat2.


Saat dia maju ke depan, bersiap bicara, beberapa peserta mulai mengejeknya, dengan meniru suara kambing, 'Mbeek!', 'Mbeek!', 'Mbeek!' Kok diejek dengan suara kaming? Karena Agus Salim punya jenggot. Kalian bisa google sebentar, lihat foto beliau. Lihat jenggotnya. Tak pelak lagi, itu favorit lawan politiknya, mengejeknya dengan suara kambing. Bayangkan, di sebuah pertemuan yg seharusnya terhormat, dia diejek begitu secara terbuka.


Tapi yang mengejek lupa, Agus Salim itu adalah ponakan dari Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabauwi. Ilmunya tinggi. Adabnya tinggi. Dan dia tentu bisa mengurus masalah ini dgn mudah.


Maka apa responnya? Dia bicara dengan santai, “Tunggu sebentar. Bagi saya sungguh suatu hal yang sangat menyenangkan bahwa kambing-kambing pun telah mendatangi ruangan ini untuk mendengarkan pidato saya. Hanya, sayang sekali bahwa mereka kurang mengerti bahasa manusia sehingga mereka menyela dengan cara yang kurang pantas, jadi saya sarankan agar untuk sementara mereka tinggalkan ruangan ini untuk sekadar makan rumput di lapangan. Sesudah pidato saya ini yang ditujukan kepada manusia selesai, mereka akan dipersilakan masuk kembali."


Itu cara 'membalas' yg elegan sekali. 


Adik2 sekalian, hari ini, apa yang kita lakukan? Masih sama seperti dulu. Suka melabeli orang yg berbeda pendapat dengan hewan. Cebong, kampret, kadal gurun, dll dsbgnya. Sama. Tabiat ini terus terbawa2 sampai sekarang. Malah lebih parah. Padahal itu dilarang oleh agama. Memanggil saudara sendiri dgn panggilan buruk itu sangat terlarang. 


Maka, jika kalian pelakunya, berhentilah. 


Jika kalian yang dipanggil begitu. Jangan dibalas. Atau kalau mau 'membalas'nya, tirulah Agus Salim. Cari cara paling elegan. 


Agus Salim tidak hanya sekali harus menerima ejekan itu. Berkali2, Kawan. Dan dia selalu elegan mengatasinya. Di lain kesempatan, di pertemuan lain, saat orang lain mulai 'Mbeek!', 'Mbeek!' meniru suara kambing, dia santai membuka pembicaraannya dengan, “Saudara-saudara dan kambing-kambing yang terhormat." Dia tidak membalas 'memaki' pengejeknya dgn menyebut nama hewan lain. Dia simpel memanggilnya kambing2 yang terhormat. Dan itu akurat sekali, karena dengarlah, mereka mengembik, tentu hanya kambing yg mengembik, bukan sapi. 


Adik2 sekalian, semoga kalian mau berhenti menulis komen kadrun, cebong, kampret di page ini. Mari fokus saja ke substansi, topik masalahnya. Karena ketahuilah, saling memaki, mencaci, tidak pernah akan memberikan solusi. 


Malah yang ada, saat kita sibuk saling panggil dengan nama2 hewan, sssttt.... Harun Masiku tertawa lebar. Menteri dari PDIP dan Gerindra yg ditangkap KPK juga sudah bisa tersenyum. Kita lupa substansi utamanya. Bahkan kita lupa, siapa 'lawan' sebenarnya bagi NKRI ini. Koruptor.


Tabik.


*Tere Liye, penulis novel "Negeri Para Bedebah"

Baca Juga
Loading...