Ini Bedanya Blusukan Anies dengan Si Anu, Buzzer OD Jangan Baca, Ntar Naik Gula Darahnya...


Loading...

 


Anies Baswedan memang beda. Mulai dari caranya berbicara hingga saat melakukan blusukan.

Di setiap tulisan yang dimuat dimedsos resmi, tampak dengan jelas Anies tak hanya melakukan blusukan. Namun juga menyelami permasalahan warga dengan cara berbincang langsung. Tanpa batas!

Itulah yang membuat blusukan Anies tak sekedar basa basi. Seperti blusukan seorang pemimpin yang itu. Blusukan ke sawah, beras malah impor. Blusukan ke pantai, garam malah impor.

Padahal selalu ada sesi foto sendiri. Dengan raut wajah seolah sedang memikirkan rakyat. Asudahlah...

Yang terbaru, Anies blusukan sambil istirahat dan makan malam di sebuah warung. Berikut tulisannya :

Di sebuah warung Pecel Lele, di bawah remang lampu yang cahayanya seadanya seorang anak usia 14an tahun serius bekerja. Dia terampil bergerak dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. 

Memotong sayur-sayuran, menyedu teh atau jeruk panas, menyiapkan nasi, ataupun membawa piring-gelas kotor  lalu mencucinya. 

Lap basah itu bergerakputar cepat di tangannya, membersihkan meja yang baru ditinggal pengunjung warung. Anak ini lincah, tangkas, cakap dan ceria. 

Saya pandang dia dari kejauhan, dari tempat saya duduk di warung itu. Sesekali mata kita bertatapan, lalu kita sama-sama saling senyum. Dia tahu saya memperhatikan, dan sesekali dia juga mencuri pandang. 

Saya panggil dia dan tanya sedang apa, dijawabnya, “sedang memotong sayur Pak.” Lalu saya pesan, “kalau sudah selesai, nanti ke sini lagi ya.” Dia mengangguk. Saya ingin ngobrol dengan dia. Tapi dia lama tidak balik, rupanya dia non stop bekerja. Sejak menunggu hingga makan pecel lele itu selesai, dia tak berhenti dari satu kerjaan ke kerjaan lainnya. 

Di warung ini pengemudi ojek datang silih berganti, rupanya mereka juga melayani pembelian secara online. Pantas saja pekerjaan tidak pernah berhenti.

Saya selesai makan, baru dia datang. Kami duduk semeja. Dia tak canggung, menjawab dng percaya diri dan membawakan diri sebagai seorang yg terbiasa bercakap dengan orang dewasa. Dia cerita, “kalau pas Bapak lagi ada urusan lain, saya yang kerjakan disini Pak.” Saya tanya, apakah bisa kerjakan semua, dijawabnya, “iya Pak, bisa semua tapi tetep harus ada yang bantu biar cepet.” Anak ini dinamai oleh orangtuanya: Muhammad Fahri Husaini Arrosi, panggilannya Rosi. 

Saat Rosi, siswa SMP kelas 8 ini ditanya, kapan belajarnya, “kalau pagi Pak, soalnya sekolahnya masuk siang dan sekarang khan online.” Rupanya mereka pilih sekolah yang masuknya siang supaya di pagi hari bisa istirahat dan belajar. 

“Saya mau jadi pengusaha Pak,” jawab dia saat ditanya rencana masa depannya. Mimpinya jelas. Jawabnya cepat. 

Berasal dari Jatibarang, Brebes, keluarga ini menjalankan sebuah usaha warung pecel lele di tepi jalan. Di serambi sebuah bengkel yang mereka sewa tempat untuk warung. Tenda tenda dibentang setelah bengkel tutup di sore hari. Suami, istri dan anak bekerja bersama. Dan, semua tertib bermasker walau areal penggorengan itu lembab dan panas. 

Sebuah warung yang amat sederhana. Keluarga ini juga sederhana. Tapi mereka adalah keluarga tangguh. Terlihat bahwa sesungguhnya Pak Agus itu pendidik yang hebat, dia sedang mendidik anaknya menjadi ulet, terampil, bersahaja dan tangguh.

Ayah dan Ibu yang sederhana ini tengah menumbuhkan sebuah generasi baru yang hebat. Warungnya adalah ruang pendidikannya. Warungnya adalah ruang perluasan wawasannya. Mereka latih anaknya untuk kalahkan kantuk, kalahkan lelah, dan untuk menata satu persatu bata utk bangunan masa depan yang lebih baik.

Malam ini dalam perjalanan bersepeda dari Stasiun MRT Lebakbulus menuju rumah, kami berhenti di warung pecel lele di tepi Jalan Pasar Jumat. 

Malam ini saya bukan cuma menemukan pecel lele yang enak sekali, tapi menemukan sebuah keluarga tangguh. Sebuah keluarga pejuang, keluarga pendidik. 

Kota ini penuh dengan orang-orang tangguh. Negeri ini memang produsen pekerja keras. Orang tua yang dalam kesederhanaanya dan -tanpa disadarinya- sedang mendidik anak-anaknya jadi pribadi hebat. 

Dan kita doakan Rosi, serta jutaan Rosi lain di kota ini, di bangsa ini makin tangguh ditempa dan kelak mereka jadi pribadi membanggakan bagi ibunya, bagi ayahnya dan bagi kita semua.

Baca Juga
Loading...