TKA China Ngamuk Sambil Pegang Senjata dan Teriak "Balas Dendam! Bunuh!"


Loading...

 


Video berdurasi 11 detik mengenai perkembangan demo buruh di kawasan Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI), Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), yang berujung ricuh tersebar di medsos.

Dalam video tersebut, tampak ratusan pekerja China berbaris sambil memegang senjata berupa tongkat yang ujungnya tajam, mirip tombak.

Tak hanya itu, mereka berteriak dengan menggunakan bahasa Tionghoa.

Teriakan mereka diterjemahkan seorang warganet Indonesia keturunan Tionghoa, Aline Yoana Tan.

"Saya Bantu Artikan : Mereka Berteriak Yang Berarti Balas Dendam, Pemimpin Berteriak Balas Dendam, Satu Orang Bilang Ayo Bunuh," tulis Aline.

"Ini Adalah Bahasa China Tailok Pedalaman," sambungnya lagi.



Kerusuhan di perusahaan China tersebut dipicu kekecewaan buruh lokal dengan timpangnya gaji mereka dibanding TKA China.

Sebelumnya, ratusan buruh yang tergabung dalam Serikat dan Perlindungan Tenaga Kerja (SPTK) Kabupaten Konawe, sempat terlibat keributan dengan petugas keamanan pabrik dan akhirnya berujung kerusuhan.

Para buruh mengaku kecewa atas sikap perusahaan yang tidak menanggapi tuntutan mereka soal kenaikan gaji dan status pengangkatan karyawan.

Lalu, pada Senin malam massa memutuskan untuk bertahan di pabrik smelter asal China itu.

Menurut Ketua SPTK Konawe Kasman Hasbur, selama ini karyawan yang bekerja bertahun-tahun tidak diikat dengan perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT).

Bahkan, menurut dia, ada karyawan yang bekerja lebih dari 3 tahun statusnya belum menjadi pegawai tetap.

"Ketika ada yang bekerja dua sampai tiga tahun dicarikan masalah supaya keluar. Misalnya, ada yang sakit tapi keterangan sakitnya tidak dianggap, akhirnya dikeluarkan surat peringatan," kata Kasman dikonfirmasi lewat telepon, Senin (14/12/2020).

Menurut Kasman, ada sekitar 3.000 buruh di pabrik VDNI yang nasibnya tak jelas.

Sebelumnya, aspirasi buuruh itu perndah disampaikan ke perusahaan pada 27 November 2020. Namun, hingga saat ini tak ada respon.

"Rencananya, kami akan terus berdemo selama tiga hari ke depan. Jika tuntutan kami belum dipenuhi kami akan melakukan mogok kerja sampai tuntutan dipenuhi," tegasnya.

Massa buruh berhasil masuk ke dalam perusahaan setelah terlibat bentrok dengan petugas keamanan perusahaan.

Akibatnya, pos keamanan perusahaan hancur dilempar para buruh. Tak hanya itu, sejumlah dump truk, excavator dan puluhan motor serta bangunan juga ikut terbakar.

"Ada demo anarkis yang mengakibatkan terjadinya kebakaran untuk unit mobil dan pos jaga. Tapi untuk smelter saya belum dapat infonya," ungkap Kabid Humas Polda Sultra Kombes Pol Ferry Walintuka.

Aparat gabungan TNI-Polri segera dikerahkan untuk mengendalikan situasi di lokasi demo.

Setidaknya, 3 satuan setingkat kompi (SSK) dari Brimobda Sultra, Dalmas Polda dan Polres Konawe juga ada bantuan 1 SKK dari TNI AD Yonif 725/Woroagi, telah berjaga di lokasi.

"Dari semalam sudah kondusif tuh. Sekarang Pak Kapolda dan Pak Danrem ada di sana dengan Pak Bupati untuk memfasilitasi antara karyawan dengan manajemen VDNI, karena kemarin ribut tuh," ungkap Ferry dihubungi via telepon, Selasa (15/12/2020).

Terkait kondisi keamanan tenaga kerja asing (TKA) yang bekerja di VDNI dan OSS, Ferry mengatakan, tak ada korban jiwa atau cedera dari para TKA tersebut.

"Belum ada informasi soal adanya korban jiwa. Kami juga belum mendapatkan laporan perihal terjadinya gangguan terhadap TKA di sana," lanjut Ferry.

Loading...