Mencekam! Massa Buruh di Perusahaan China Ngamuk


Loading...

 


Unjuk rasa dilakukan buruh PT VDNI dan PT OSS menuntut kenaikan upah berlangsung di Kecamatan Morosi Kabupaten Konawe, Senin (14/12), berujung rusuh.


Massa demonstran dilaporkan membakar sejumlah alat berat atau escavator milik perusahaan smelter raksasa yang terparkir di dalam area pabrik. Kobaran api membumbung tinggi pasca amuk massa yang berlangsung anarkis sejak pagi hingga malam.


Ada empat unit escavator tampak menjadi korban pembakaran saat aksi unjuk rasa buruh PT VDNI dan PT OSS. Sejumlah orang mengabadikan aksi pembakaran dalam area pabrik tersebut.


Sementara itu, sejak siang suasana mencekam terjadi di kawasan smelter di sela aksi unjuk rasa para buruh yang menuntut kenaikan upah pekerja. Aksi saling lempar berujung pengrusakan gedung PT VDNI tak terelakkan. Sejumlah massa terlihat melempar dan memecahkan gedung PT VDNI.


Aksi demonstrasi ribuan buruh kawasan mega industri Konawe itu adalah yang dua. Sebelumnya ribuan pekerja lokal PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) dan PT Obsidian Stainless Steel (PT OSS) kompak melakukan aksi mogok kerja, Jumat (27/11).


Data dihimpun Sultraberita.id, selain mogok kerja, para karyawan lokal ikut menggelar aksi demontrasi di lokasi pabrik perusahaan smelter milik perusahaan China tersebut.


Ribuan karyawan perusahaan smelter raksasa yang terletak di Morosi Kabupaten Konawe terlihat memadati kawasan industri sejak pagi hingga siang ini.


Salah seorang buruh PT OSS yang enggak disebutkan namanya mengaku aksi tersebut dilatarbelakangi tuntutan kenaikan upah serta status karyawan lokal yang lebih dari setahun bekerja pada PT OSS dan PT VDNI.


“Ada yang sudah tiga tahun tidak ada kejelasan apakah akan diangkat jadi pegawai tetap atau tidak. Ini sudah tidak sesuai aturan UU Nomor 13 Tahun 2003. Kita juga kecewa karena tidakdak ada kenaikan upah karyawan yang lebih dari setahun bekerja. Semestinya jika lebih dari setahun ada kenaikan upah,” paparnya.


Pria yang bekerja pada bagian Kru Umum Smelter PT OSS mengatakan gaji yang ia terima selama ini memang sesuai standar UMR yakni kisaran Rp 2 juta lebih.


“Ditambah ada uang transpor harian 15 ribu perhari. Jumlah ini tidak ada kenaikan dari awal sampai bertahun-tahun bekerja. Itu naik kalau ada kenaikan UMR saja,” jelasnya


Kebijakan perusahaan China di Morosi itu terhadap pekerja lokal jauh berbeda dengan buruh asing.


“Kalau yang sama di kru umum smelter itu ada di kisaran 10 juta sampai 5 juta. Kita hanya 2 jutaan. Jauh beda dengan pekerja lokal,” akunya.


Aksi mogok kerja para pekerja lokal, kata dia, akan terus berlanjut hingga pihak perusahaan mau mengakomodir tuntutan para pengunjuk rasa.


Hingga berita ini dirilis, belum ada satu pun perwakilan perusahaan menemui para pekerja yang berunjuk rasa.


Meski melibatkan ribuan massa, aksi mogok kerja dan demonstrasi ribuan buruh lokal PT VDNI dan PT OSS sejauh ini berlangsung tertib dan kondusif. 

Loading...