Mahfud MD : Ingat! Kenaikan Kasus Covid-19 Tidak Berkaitan dengan Pilkada


Loading...

 


 Menteri Koordinator Politik Hukum, dan Keamanan (Polhukam), Mahfud MD menegaskan, meningkatnya penambahan infeksi kasus Covid-19 di Indonesia tidak berkaitan dengan penyelenggaraan Pilkada Serentak 2020.


Menurut Mahfud, pada awalnya, pelaksanaan Pilkada Serentak oleh sebagian elemen masyarakat dinilai akan meningkatkan ledakan kasus dan klaster baru.


"Ketika kita memutuskan dulu, untuk tetap melaksanakan Pilkada Serentak 2020 ini ada kekhawatiran yang sangat serius dari sebagian warga masyarakat terutama pemerhati masalah-masalah sosial dan kesehatan, dan politik, bahwa pilkada serentak ini akan menjadi klaster baru yang sangat membahayakan," ujar Mahfud, dalam Monitoring Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah secara virtual, Rabu (9/12/2020).


Namun, dalam pelaksanaannya di lapangan, berdasarkan pemantauan dengan tim Satgas Covid-19, tingkat kepatuhan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan saat Pilkada sudah cukup baik. Hal ini terlihat dari indikator kepatuhan masyarakat dalam menjaga jarak dan menggunakan masker yang sudah di atas 90%.


Berdasarkan pemantauan dari sejumlah TPS yang menyelenggarakan Pilkada, ternyata berjalan cukup baik. Oleh karena itu, menurut mantan hakim Mahkamah Konstitusi ini, tren angka kenaikan kasus Covid-19 di daerah yang melakukan Pilkada dan yang tidak menyelenggarakan tidak mengalami perbedaan. Sehingga bisa disebutkan, penambahan infeksi kasus tidak berelasi dengan perhelatan pesta demokrasi.


"Tidak ada kaitan sebenarnya membesarnya terinfeksi Covid-19 dengan penyelenggaraan pilkada. Kenapa? Karena kita berusaha secara sungguh-sungguh untuk itu [menerapkan prokes]," kata Mahfud menjelaskan.


Meski demikian, masyarakat harus tetap waspada dan menjalankan protokol kesehatan seperti menjaga jarak, menggunakan masker dan mencuci tangan di tengah kepastian mengenai vaksinasi massal di awal tahun depan.


"Penyebaran Covid itu akan terus terjadi dan dikendalikan sampai batas tertentu dan 2 hari lalu kita sudah mempunyai vaksin, sebanyak 1,2 juta. Januari selambatnya akan mulai penyuntikan untuk mengendalikan penyebaran virus," pungkas Mahfud. (cnbc)

Baca Juga
Loading...