Koruptor Dana Bansos Mati-matian Dibela dan Dijilat, Elu Semua Lebih Setan Dari Setan!!!


Loading...


Bayangkan situasinya. Ada bencana. Ribuan, jutaan orang kena. Susah makan, susah kemana2. Semua serba susah. Sementara kontrakan harus bayar--atau kalau nggak diusir. Bayi nangis, karena susunya nggak ada, cuma bisa dikasih air. Anak-anak tidak bisa sekolah, karena nggak punya HP. Utang numpuk di warung, cicilan menunggu.


Bayangkan situasinya. Ada bencana. Ribuan, bahkan jutaan orang butuh bantuan. Kasihan lihatnya. Mereka cuma makan nasi sama mie instan tiap hari. Mereka harus stress mikirin kerja nggak dapat. Kerja kena PHK. Tidak punya tabungan, dll. Mereka bukan pemalas, tapi dunia lagi kena bencana. Semua jadi susah.


Sementara elu,


Punya tabungan, banyak. Punya rumah, mobil. Punya pekerjaan. Gaji tetap. Bisa kemana2 naik pesawat garuda, dibayarin negara. Nginep di hotel berbintang dibayarin. Anak2 elu bisa sekolah. Tidak pusing kontrakan dan cicilan.


Elu punya segalanya. Hidup elu jauh lebih baik.


Tapi dasar bedebah! Elu malah maling, ngembat uang bantuan untk korban bencana tersebut.


Elu lebih setan daripada setan.


Dan lebih ambyar lagi, netizen2 yang tetap saja sibuk jilat pantat, berebut jabatan. Asyik halan2 ikut. Partai politiknya yang tetap belain. Dan semua orang yang tidak peduli, tutup mata saat kejahatan dipertontonkan lebar di depannya. Mana kepedulian elu? Kok mingkem saja.


Bedebah, elu tahu tuntunan agama? Hanya ada tiga hal yg bisa dilakukan saat kejahatan, kemungkaran pesta pora di depan elu. Satu, elu bereskan dengan tangan. Dua, elu ingatkan dengan lisan, tulisan. Tiga, elu benci sebenci-bencinya, dan inilah cara dgn level paling rendah. 


Nah, elu mau ngambil yg nomor berapa? Atau elu masuk bagian yang lebih setan daripada setan ini? Hanya karena belum kebagian saja jatahnya? Ayolah, negeri ini tdk akan pernah baik2 saja, jika urusan korupsi begini, lebih banyak yg diam sekarang.


*Tere Liye, penulis novel 'Negeri Para Bedebah'

Loading...