Riset Indef : Maruf Amin Tak Populer karena Dianggap Ban Serep


Loading...


 Institute For Development of Economics and Finance (Indef) menyebut Wakil Presiden Ma'ruf Amin tidak populer berdasarkan hasil riset. Ma'ruf pun dianggap ibarat wapres ban serep seperti pada masa Orde Baru.


Ma'ruf masuk kategori tidak populer lantaran sangat sedikit yang membicarakan kiprahnya di media sosial sejak menjadi orang nomor dua di Indonesia.


Hal ini terkait sikap, kebijakan, pandangan hingga pemikiran dan keseharian Ma'ruf Amin yang justru tak banyak dibahas di media sosial.


Tim Big Data Indef melakukan riset berupa analisis yang berkaitan dengan sentimen institusi, perilaku dan kinerja pemerintah. Riset tersebut dilakukan terhitung sejak Juli hingga 13 November 2020.


"Wakil Presiden dalam riset ini tidak populer sama sekali karena sangat sedikit perbincangan tentang dan kiprah wakil presiden, mengenai sikap, kebijakan, pandangan, pemikiran dan kesehariannya," tulis Indef dalam ringkasan penelitiannya yang telah dikonfirmasi CNNIndonesia.com kepada peneliti Indef Eko Listiyanto, Senin (16/11).


Dalam riset tersebut, Indef menemukan pembicaraan yang berkaitan dengan Ma'ruf Amin sepanjang Juli hingga November di media sosial hanya 104,9 ribu.


Angka ini jauh berbeda dengan perbincangan terkait Presiden Joko Widodo yang mencapai angka satu juta lebih.


"Ini mengindikasikan wakil presiden terlihat seperti ban serep pada masa Orde Baru," berikut pernyataan Indef yang dikutip dari penelitian tersebut.


Meski begitu, hal ini dianggap wajar sebab penunjukan Ma'ruf Amin sebagai wakil presiden pada Pilpres 2019 lalu juga terbilang elitis dan tertutup, bahkan dinilai kurang mendengarkan aspirasi publik.


Dalam riset ini Indef telah mengumpulkan 2,18 juta informasi dan data berupa percakapan tentang presiden, wakil presiden dan menteri.


Indef sendiri telah mengembangkan sistem big data (machine learning) yang digunakan untuk mengambil data dan informasi percakapan, berita, dan dokumen-dokumen di dunia maya.


Selama periode itu telah terkumpul tidak kurang 2,18 juta percakapan di media sosial dengan kata kunci Joko Widodo; Presiden Jokowi, Jokowi. Juga kata kunci menteri seperti Terawan Agus Putranto, Menkes Terawan, menterikesehatan, menteri kesehatan.


(tst/pmg)

Loading...

Posting Komentar

0 Komentar