Sadis Tapi Cerdas, Begini Sindiran Warganet Buat Prof Henry Subiakto


Loading...

 


Staf Ahli Menteri Kominfo Bidang Hukum, Prof Henry Subiakto menyindir kelompok yang doyan nyinyir dan pemuja hoax.


“Di negeri ini ada kelompok orang yang ide, kreasi dan aktivitasnya hanya berkutat pada upaya menuduh, nyinyir, memuja hoax dan pesimis pada bangsanya sendiri. Hal itu tampak nyata dalam komunikasi terutama di media sosial,” kata Prof Henry melalui akun Twitter pribadinya, @henrysubiakto, Kamis (29/10).


Ia menyebut ada kelompok di Indonesia yang lebih percaya hoax karena sejalan dengan pikirannya sendiri.


“Di negeri ini banyak orang pemuja pikirannya sendiri. Kalau ada info yang salah, lalu info itu dikatakan hoax, mereka justru menyalahkan fakta, dan lebih mempercayai hoax karena sejalan dengan pikirannya. Itulah post truth,” katanya.


Diduga, Henri Subiakto menyindir Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Fadli Zon. Henry dan Fadli Zon sempat berdebat di ILC tvOne tentang harga vaksin Covid-19.


Perdebatan keduanya berlanjut ke media sosial Twitter. Henry menyindir Fadli Zon. Ia menyarankan agar Fadli Zon ditunjuk sebagai special envoy untuk cari vaksin seharga 2 dollar.


“Kasus hoax Ratna Sarumpaet tidak dijadikan pelajaran,” sindir guru besar Universitas Airlangga (Unair) itu.


Tweet Hery Subiakto memantik reaksi netizen. Mereka membalas cuitan Henry Subiakto dengan kalimat menohok dan lebih menyakitkan.


Uniknya, balasan dan sindiran warganet dibuat semirip mungkin dengan kalimat Prof Henry Subiakto. Hanya objeknya yang berbeda dan ditujukan kepada Prof Henry Subiakto.


“Di negeri ini ada kelompok orang yg ide, kreasi dan aktivitasnya hanya berkutat pada upaya menjilat, menjilat, menjilat dan menjilat demi jabatan dan kepentingannya sendiri. Hal itu tampak nyata dalam komunikasi terutama di media sosial,” tulis @mawisevendry.


“Di negeri ini ada profesor yang kalo kalah debat langsung baperan dan terus ngoceh di TL kagak berhenti. Dan dia makan gaji dari pajak rakyat tanpa malu nuduh orang-orang yang mungkin duitnya dimakan sebagai gaji,” komentar @RIndra74.


“Di negeri ini juga tidak dibudayakan malu saat terdiam pucat debat di tv. Oalah komunikasi di medsos kok dijadikan acuan dalam kehidupan bernegara Wajah dengan air mata bahagiaTertawa berguling di lantai,” imbuh @yusufrega.


“Di negeri ini ada org yg mengaku profesor tapi miskin data, kreasi dan aktivitasnya hanya berkutat pada upaya membela diri, curhat d medsos saat kalah debat di tv. Hal itu tampak nyata dlm komunikasi terutama di media sosial,” tandas @Kamalbukankumal.

Loading...

Posting Komentar

0 Komentar