Narasi Hoaks dan Matikan Mic


Loading...

 


Sebelum tidur, istri saya minta diceritakan kenapa UU Omnibus Law ramai diperbincangkan. Kenapa kemudian ramai ditolak. Apa pula Omnibus Law itu. Ia memang senangnya bertanya kepada saya daripada mencari sendiri. 


Sebab, ia lebih percaya apa yang keluar dari mulut suaminya daripada informasi-informasi yang wara-wiri di media sosial. Kepada media, saya juga selalu ajarkan kepadanya untuk bersikap skeptis. Bahwa media bukan alat kebenaran satu-satunya.


Lalu kepada siapa saya mencari "kebenaran" di rimba yang rimbun informasi ini. Sebelum saya memulai penjelasan yang sudah ditunggu istri saya yang sedang berbaring di lengan, saya menarik nafas panjang sambil membatin: terpelajar harus berlaku adil, sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.


Saya katakan, saya belum baca secara keseluruhan. Sebab UU Ciptaker itu tebalnya 905 halaman. Kalau membacanya tak cukup sehari semalam. Ia bukan cerpen, ia lebih mirip novel. Membaca UU Ciptaker sama dengan menghabiskan dua novel dari Tetralogi Buru: Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. 


Novel karya Pram itu enak dibaca, lah ini bahasanya njelimet. Sudahlah panjang njelimet pula. Lalu bagaimana saya sampai pada kesimpulan bahwa UU Ciptaker itu tidak pro-rakyat? Istri saya menyelidik. Menyimpulkan dari sumber-sumber terpercaya, atau paling tidak saya percayai. 


Sependek pengetahuan suamimu ini, ujar saya memulai. Ada beberapa poin yang memang perlu dikritisi. Pertama adalah soal ditiadakannya UMR (upah minimum regional). UU Ciptaker tak mengatur UMR, yang diatur hanya UMP. Umumnya, UMP selalu lebih rendah dari UMR. 


Berikutnya status karyawan. UU Ciptaker menyebutkan bahwa status karyawan diubah menjadi tenaga kerja waktu tertentu, artinya, menurut hemat saya, peluang dikontrak terus bisa terjadi. Tak ada jaminan bagi pekerja diangkat menjadi karyawan tetap. 


Lalu jumlah pesangon bila PHK yang jumlahnya berkurang. Lalu, soal jam kerja dan aturan libur serta cuti. Juga ada soal lahan, di mana pemerintah bisa mengambil lahan untuk kepentingan industri. Atas nama kebijakan strategis nasional sebuah kampung akan "digarap" menjadi ladang mendulang uang tanpa ganti rugi yang wajar. 


Tapi apakah UU Ciptaker itu buruk semua? Tentu tidak. Tidak semua yang ada di dunia ini buruk. Yang baik selalu ada, bahwa iklim investasi kita akan lebih bergeliat. Aneka kemudahan yang diberikan kepada investor akan membuat banyak perusahaan raksasa berinvestasi besar datang ke Indonesia.


Misalnya, barangkali, perusahaan macam Microsoft akan bangun pabrik di Indonesia. Samsung, Apple dan rekan-rekan sejenisnya. Sebab mudah saja mereka kini mendirikan usaha. Tak ada lagi amdal, soal lingkungan dan persoalan buruh yang bisa mengganjal. Karpet merah bagi investor tentu saja akan menimbulkan efek domino, kemajuan di banyak sektor. 


Betul begitu? Ujarnya masih terjaga. Ya kebenaran itu kan selalu memiliki tiga dimensi. Kebenaran itu diucapkan oleh siapa? Maksudnya? Timpalnya.


Kebenaran itu tergantung dari siapa yang berbicara. Kalau yang berbicara kini di lingkar kuasa maka narasi-narasi yang mengkritisi  UU Ciptaker akan dianggap hoaks.


Maka kebenaran memiliki tiga versi. Versi saya, versi Anda dan versi yang hakiki. Untuk mencapai kebenaran yang hakiki ya prosesnya memang panjang. Kita tidak cukup menelaah dari satu sumber. Jalan satu-satunya, bila kita ingin benar-benar mengetahui mana yang sebenarnya adalah sebuah kebenaran ya kita harus mencari tahu sendiri. 


Caranya? Membaca dari berbagai sumber. Sumber yang pro dan sumber yang kontra. Atau, bila memiliki keluangan waktu baca 905 halaman itu. Yang sulit adalah bila ruang-ruang mencari informasi dimatikan. Suara-suara yang hendak berargumentasi ditiadakan, narasi-narasi yang menolak diatur dan segera dianggap sebuah anca.......................................................................................................................


*mic saya tiba-tiba dimatikan. sementara istri sudah terlelap, mungkin sedang bermimpi membuka usaha agar bisa merasakan manfaat UU Ciptaker. :D


-BR-

suami satu istri

Loading...

Posting Komentar

0 Komentar