Pengakuan Mantan Militer Myanmar Membantai Rohingya Ini Mengejutkan Dunia


Loading...

Dua tentara Myanmar yang membelot, membuat pengakuan mengejutkan soal tragedi yang menimpa muslim Rohingya. Mereka diperintahkan membunuh muslim Rohingya di Rakhine dalam kekerasan yang terjadi pada 2017.

Dalam rekaman video, mereka diperintahkan untuk menembak semua yang dilihat dan didengar saat patroli di desa-desa tempat tinggal muslim Rohingya. Ada juga yang menjadikan muslim Rohingya sebagai sasaran latihan tembak

Ini menjadi pengakuan publik pertama oleh tentara Myanmar atas tuduhan pembantaian, pemerkosaan, dan kejahatan lainnya terhadap etnis minoritas Rohingya.

Kelompok HAM yang berfokus pada isu Myanmar, Fortify Rights, menyarankan agar dua mantan tentara itu memberikan bukti penting penyelidikan yang sedang berlangsung di Pengadilan Kirimal Internasional (ICC), Den Haag, Belanda.

Lebih dari 700.000 muslim Rohingya terpaksa melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh sejak Agustus 2017 untuk menghindari tindak kekerasan yang disebut kelompok HAM sebagai genosida.

Fortify Rights menyatakan, dua mantan tentara Myanmar, Myo Win Tun (33) dan Zaw Naing Tun (30), melarikan diri dari negaranya bulan lalu dan kini diyakini berada dalam tahanan ICC. Mereka bertugas di batalion infanteri ringan, namun penempatannya terpisah.

"(Mereka memberikan) Nama dan pangkat 19 pelaku dari tentara Myanmar, termasuk keduanya termasuk enam komandan senior, mereka mengklaim memerintahkan atau berkontribusi pada kejahatan kekejaman terhadap Rohingya," bunyi pernyataan Fortify Rights, dikutip dari Associated Press, Rabu (9/9/2020).

Video-video itu direkam pada Juli saat Nyu dan Zaw tentara berada dalam tahanan Tentara Arakan, kelompok gerilyawan etnis di Rakhine yang terlibat dalam konflik bersenjata dengan pemerintah. Video juga diunggah di akun Fortify Rights. (inews)
Loading...

Posting Komentar

0 Komentar