Salut! PKS Berjibaku Lawan Politik Dinasti Jokowi di Solo dan Medan


Loading...

Skenario membangun politik Dinasti yang dilakukan Jokowi sangat mudah ditebak. Kecuali oleh para pendukungnya.

Gibran Rakabuming Raka melalui 'kekuatan' sang ayah, resmi mendapat tiket dari PDIP maju Pilkada Solo 2020.

Rival Gibran yang merupakan kader PDIP tulen, Achmad Purnomo sempat dirayu Jokowi untuk 'tukar guling' demi menutup mulut serta kekecewaan.

Semua partai kecuali PKS ikut mendukung Gibran. Putra Jokowi tersebut hampir dipastikan melenggang nyaman.

Untung saja demokrasi di negeri ini masih memiliki PKS yang ikut meramaikan dengan memilih menjadi oposisi dan bakal merayu rival Gibran, Achmad Purnomo dan partai lainnya untuk melawan Gibran.

"Sasaran pertama kita komunikasi ke Pak Purnomo. Sejak awal nama Purnomo memang masuk dalam survei kami. Kalau PDIP pilih Gibran kan artinya Pak Pur tidak terpakai," kata Ketua DPD PKS Solo, Abdul Ghofar.

Namun, karena suara mereka tidak memenuhi syarat minimal, Ghofar mengaku bakal mengajak partai lain menjadi oposisi. PKS yang memiliki lima kursi DPRD Solo harus mencari tambahan empat kursi lagi.

Artinya PKS harus mengajak minimal dua partai lagi karena tidak ada yang memiliki suara di atas tiga. PAN, Golkar dan Gerindra masing-masing memiliki tiga kursi, sementara 1 kursi sisa dimiliki PSI.

Ghofar mengetahui jika partai-partai lain sudah merapat ke PDIP. Namun pihaknya akan berupaya berkomunikasi agar ada parpol lain yang bergabung dengan PKS.

"Mulai hari ini coba kita komunikasi dengan parpol non-PDIP, kita ajak bareng-bareng," ujar Ghofar.

Opsi menjadi oposisi dia pilih karena PKS merupakan partai dengan kursi terbanyak kedua setelah PDIP di Solo, meskipun suara mereka terlampau jauh. Ghofar juga menyatakan tidak ingin ada kotak kosong di Pilkada Solo.

"Solo itu jangan sampai kotak kosong, memalukan. Parpol non-PDIP tinggal mau jadi follower atau pelaku. Kita segera komunikasikan," cetusnya.

Sementara itu, kisah yang hampir sama terjadi di Medan. Bobby Nasution, menantu Jokowi diperkirakan dengan mudah menduduki kursi Wali Kota Medan.

Jika di Solo memakan korban Achmad Purnomo, di Medan ada Akhyar Nasution. Plt Wali Kota Medan yang merupakan kader PDIP tersebut malah digoyang kader partainya sendiri.

Padahal Bobby Nasution maju dengan kendaraan Golkar. Namun karena dia menantu Jokowi, PDIP di Medan seperti makan buah simalakama.

Mendukung menantu presiden yang berarti mengorbankan kadernya sendiri, atau mendukung Akhyar yang berarti 'melawan' Jokowi menciptakan dinasti politik.

Lagi-lagi, PKS yang kali ini bersama Partai Demokrat bergerak cepat dengan memberi dukungan ke Akhyar Nasution yang jadi bulan-bulanan partainya sendiri.

Tampaknya menantu Jokowi akan menghadapi perlawanan keras jika harus head to head dengan Akhyar yang dibackup PKS dan PD. Karena kedua partai tersebut mempunyai akar rumput militan di Medan.

Untuk PKS, bisa kita beri ucapkan SALUT!!!
Loading...

Posting Komentar

0 Komentar