Pernah Jadi Sales Pengharum Toilet, Denny Kini Jadi 'Pengharum' Pemerintah


Loading...

Meski lahir di Medan, Sumatra Utara, Denny menghabiskan masa kecil di Bandung dan masa remaja di Jakarta. Setelah itu, ia hijrah ke Surabaya mengikuti orang tua, hingga ia menyelesaikan pendidikan sarjana di sebuah universitas swasta.

Semenjak masa kuliah, dirinya telah bekerja di beberapa perusahaan radio. Denny mendapatkan ilmu jurnalistik di Radio Suara Surabaya.

 Setelah puas bekerja di radio, kemudian ia pindah ke Bali untuk mendapatkan kehidupan yang berbeda. Di sana, bekerja sebagai sales pengharum toilet.

Kemudian ia kembali ke Surabaya, membuat sebuah perusahaan entertainment. Selain itu ia juga aktif membangun beberapa stasiun radio di Jawa Timur, satu di antaranya adalah Radio Pendidikan di Dinas Pendidikan Jawa Timur.

Denny Siregar mulai aktif menulis di media sosial sejak 2010. Pertama kali tulisanya di publikasikan di Facebook. Di Facebook pula, Denny aktif mengikuti perdebatan mengenai masalah agama dan mazhab.

Pengetahuan soal agama dan mazhab itu, kemudian ia tuliskan dalam status-status dengan bahasa sederhana.

Kemudian Denny memulai kegiatan nge-blog sejak tahun 2012, setelah bertemu dengan teman yang menyarankannya untuk menulis di blog.

Dia pun memulai buat blog pribadinya dengan alamat web dennysiregar.com, dan mengisi tulisan di blog itu.

Setelah kegiatan menulisnya di dunia maya, ayah tiga anak ini kemudian merilis beberapa buku. Mulai dari Ngopi Bareng Denny Siregar: Tuhan dalam Secangkir Kopi, dan Bukan Manusia Angka.

KASUS AGAMA


Seperti diungkapkan di atas, Denny memang sering menuliskan buah pikirnya soal masalah agama dan mazab. Bahkan, tulisan tentang agama banyak disadur ulang oleh situs media. Mereka menjulukinya pegiat media sosial.

Dia banyak mengulas perilaku manusia dalam beragama dan juga para tokoh terkenal dengan gaya bahasanya yang lugas dan terkadang menggunakan bahasa satir.

Tulisan miliknya yang fenomenal tentang agama di antaranya Surat Cinta untuk ISIS. Tulisan ini dibuat pasca-bom di Jakarta, kemudian viral, dan tersebar di mana-mana.

Denny juga pernah terjerat kasus agama. Ia pernah dilaporkan oleh Aliansi Santri Indonesia ke Bareskrim Mabes Polri, pada September 2018 lalu. Dia dituding menistakan Agama karena berkicau di akun Twitter, perihal video pengeroyokan suporter Persija yang berisi kalimat tauhid.

PERSETERUAN DENGAN FPI


Denny pula pernah berseteru dengan FPI.  Pada 24 Mei 2017, Tim advokasi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) pernah melaporkan Denny Siregar. Hal itu terkait dengan kasus dugaan pornografi yang menjerat pemimpin FPI, Rizieq Syihab. Denny dilaporkan, lantaran, dalam publikasinya, mengklaim telah mengetahui ada 15 episode chat mesum yang diduga dilakukan Rizieq dan Firza Husein.

Tak hanya itu, di 2018, Denny pernah menuliskan cuitan bernada satir kepada Habib Rizieq. Saat itu, Habib Rizieq Shihab mengatakan, setelah dirinya hijrah dari Indonesia ke Mekkah, Arab Saudi, ia menyaksikan situasi bangsa kian semrawut dan kacau balau.

Pernyataan Rizieq mendapat komentar di Twitter Denny pada 22 Februari 2018.

“Tidak usah pulang, bib. Tidak usah. Kami tidak ingin engkau terluka. Nikmati saja masa tuamu disana, tempat dimana engkau menikmati semua. Di Indonesia kacau balau dan menderita…Habib tidak akan kuat tinggal disini. Biar kami saja..,” kata Denny.

Sedangkan, pada 29 Nopember 2019, Denny pernah menyindir Menag terkait perpanjangan izin FPI.

MENGAKU SYIAH


Kebencian Denny terhadap FPI bisa dilihat dalam kasus syiah. Ternyata, Denny pernah mengaku bahwa dirinya pengikut Syiah pada 16 September 2015. “Ya benar, saya syiah.. any problem with that?” Karena Sunni dan Syiah di Indonesia sering bentrok, tidak mengherankan kalau Denny selama ini sering melecehkan para ulama Sunni, bahkan menunjukkan kebenciannya.

REVISI UU KPK


Denny juga bermasalah dengan KPK, Hal ini terungkap, saat ia membela pemerintah dengan menerbitkan revisi UU KPK.

Bila dilihat tulisan-tulisannya, blogger kondang yang terafiliasi Jokowi ini tampak semangat betul membela keputusan Presiden Jokowi dan DPR merevisi UU KPK.

Bahkan, ia mencela habis-habisan sampul majalah Tempo edisi 16-22 September 2019 yang menampilkan ilustrasi wajah Pak Jokowi dan sebuah bayangan berhidung panjang. Pada 16 September 2019, melalu laman Facebook, ia menilai majalah tersebut telah menghina kepala negara, padahal Tempo hanya berusaha mencocokkan janji sang presiden dengan kenyataan soal KPK.

Tak hanya itu, sosok yang mengaku penulis di bio Twitter-nya ini, tampaknya mulai ad hominem dalam melancarkan kritik buat KPK. Pribadi pimpinan KPK (Novel Baswedan) mulai diserang olehnya pada 6 September 2019 via tagar.id.

Selain itu, pendukung KPK juga mulai diasosiasikan dengan kata-kata semacam kadal gurun. Denny menyampaikan asosiasi ini via Twitter pada 13 dan 17 September 2019, serta via tagar.id pada 6 September 2019. Bahkan, Denny pernah menggoreng isu Talibanisasi internal di KPK pada 27 Agustus 2019 via Facebook & 29 Agustus 2019 via Cokro TV.
Loading...

Posting Komentar

0 Komentar