Kupas Tuntas Aplikasi Bible Berbahasa Minang dan Misi Terselubung di Baliknya


Loading...

Saya posting ulang saja, mungkin saja membantu penjelasan soal Bible berbahasa Minang kemarin. Jadi berbeda dengan keumuman agama lain yang menerjemahkan kitab suci dikarenakan tuntutan kebutuhan umat, maka dalam sejarahnya, penerjemahan alkitab / Bible ke dalam bahasa lokal bukan karena tuntutan kebutuhan umat, tapi sebagai pintu masuk bagi misionarisme, yakni penginjilan yang akan dilanjut dengan pemuridan. Nah, semua itu nanti tonggaknya adalah implantasi gereja di tengah masyarakat non Kristen.

Misionarisme adalah Implantasi Gereja

Seperti yang sudah saya sampaikan pada tulisan beberapa waktu yang lalu, salah satu yang sereing menjadi titik ketegangan antara umat Islam dengan umat Kristen salah satunya adalah kebutuhan gereja yang sangat tinggi di kalangan Kristen Protestan. Kalau mengikut data dari pendeta Jans Aritonang, di Indonesia saja, saat ini kurang lebih ada 300 denominasi / aliran dalam Kristen Protestan, dimana tiap denominasi hanya bisa beribadah di gerejanya masing-masing. Itu data di Indonesia, kalau di dunia yang sempat saya dengar kurang lebih ada 1500 aliran / denominasi gereja, dan ini jumlahnya terus berkembang.

Usulan pendeta Jans Aritonang, supaya denominasi-denominasi kecil membuat merger gereja, belum pernah bisa terwujud. Kerja sama antar denominasi hanya bisa berlangsung pada event-event tertentu seperti peringatan Natal Bersama.

Ketegangan dengan masyarakat muslim akibat kebutuhan gereja yang tinggi, sehingga menyebabkan dibangunnya gereja di tengah masyarakat muslim diperparah oleh tindakan yang muncul dari gawan bayinya sebagai agama missioner. Ketika embrio gereja rumah atau gereja beneran sudah dibangun, bangunan ini kemudian menjadi pusat dari kegiatan pra evangelisasi (pra penginjilan).

Apa itu pra evangelisasi ? Menurut Iswara Rintis Purwantara, Dosen Teologi Biblika di Sekolah TInggi Theologia Baptis Indonesia yang ada di Semarang, menyebutkan bahwa pra penginjilan adalah upaya mempersiapkan lahan pikiran dan hati orang untuk membuat mereka lebih bersedia mendengarkan kebenaran (hal. 13). Kegagalan penyiapan lahan, adalah bisa berdampak pada gagalnya penginjilan. Pra penginjilan dimaksudkan untuk menghilangkan barrier psikologis antara misionaris dengan obyek yang akan diinjili.

Sedangkan penginjilan atau pekabaran Injil adalah segenap usaha umat Kristen yang tertuju kepada penanaman dan pengorganisasian gereja di antara orang-orang yang bukan Kristen. Pekabaran injil ini dimaksudkan untuk melakukan pertobatan terhadap orang-orang yang tadinya bukan Kristen. Setelah pertobatan terjadi akan dilanjutkan dengan post penginjilan atau pemuridan terhadap orang Kristen Baru tersebut. Target atau sasaran pra penginjilan ini biasanya adalah kalangan muslim awam, abangan atau anak-anak.

Saya masih ingat, ketika tahun 2010 diminta mbah wali untuk menemui pak Sunarno, seorang aktifis dakwah di Pemalang. Di rumah pak Narno, saya ketemu dengan ketua MUI Pemalang yang sudah sepuh. Bapak Ketua MUI tersebut kemudian menceritakan hasil temuannya.

"Begini dik, saat ini kami menangani 394 anak kurang mampu yang harus kami tanggung biaya sekolahnya. Tadinya anak-anak ini dibiayai oleh gereja, dan bagi yang pandai akan di sekolahkan sampai universitas, sedangkan nanti yang lainnya akan diberi ketrampilan dan modal untuk membuka usaha".

Demikian paparan dari Ketua MUI Pemalang, waktu itu. Ada nada gusar dalam penyampaiannya. Saya bisa bayangkan, ketika tokoh NU yang sudah sepuh, dan dekat dengan Gus Dur sampai gusar, padahal Gus Dur dikenal sebagai orang yang mengayomi semua pihak termasuk orang Kristen, tentu pelanggaran etika itu sudah pelanggaran kelas berat, sebab anak-anak itu tidak hanya sekedar diberi bea siswa, tapi juga dilatih membawakan lagu-lagu rohani kristen dan juga tata cara berdo'a secara Kristen.

Jangankan anak-anak yang berasal dari kalangan awam, anak seorang menteri agama pun tidak luput dari upaya propaganda dari misionaris Kristen. KH, Saifuddin Zuhri (ayah Menteri Agama saat ini), yang menjabat Menteri Agama pada era Presiden Sukarno menceritakan pengalamannya terkait hal ini :

"Semua orang tahu bahwa aku –meskipun Menteri Agama- tetapi selaku pribadi aku adalah orang Islam. Suatu hari datang kepadaku seorang propagandis Kristen menawarkan buku-buku bacaan ke-Kristenan untuk anak-anakku. Aku katakan kepadanya bahwa aku mempunyai perpustakaan pribadi di rumah, juga untuk anak-anakku ... kalau kepada seorang Muslim yang kebetulan Menteri Agama propagandis Kristen dengan leluasa mendatanginya, betapa pula terhadap orang-orang Islam golongan awam"

Saya juga masih ingat betul, ketika kelas 3 SMP dulu, saya terbangun jam tiga malam, ketika mendengar rombongan anak-anak berjalan kaki. Mereka adalah murid-murid kelas tiga sebuah SMP Katolik, yang mayoritasnya (lebih dari 90%) adalah muslim. Kata teman saya yang mengikuti kegiatan tersebut, malam itu mereka disuruh berdo’a kepada Yesus di gereja, memohon supaya diberi kelulusan. Caranya gimana tanya saya ? Disuruh menulis di kertas, kemudian kertas tersebut dibakar di altar.

 Tentu saja saya tidak akan mempermasalahkan tata cara berdo’a nya, namun ketika anak-anak Islam disuruh berdo'a di gereja secara Katolik, waktu itu saya sudah berkesimpulan bahwa hal itu sangat mencederai keyakinan dasar seorang muslim. 

Ada cerita yang lebih eskrim lagi, dari teman saya yang hobi keluyuran di lereng Merbabu. Kisah dari seorang guru TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an) di sebuah kampung yang kontestasi antara Misi Kristen dan Dakwah Islam sangar terasa. Anak-anak TPAnya yang juga sering mendapatkan les pelajaran di gereja dan juga sering dikasih bingkisan, ketika sang ustadzah bertanya “Siapa Tuhan Kita ?” mayoritas siswa TPA yang semua anak perempuannya berjilbab itu mantap menjawab “Yesus”.

Apakah semua ini nature ? berjalan alamiah ? ataukah by design, ada baiknya kita buka buku Sejarah Gereja Asia vol. 1, yang dieditori Donald E Hoke. Dalam buku tersebut, Frank Snow, Misionaris asal Inggris yang berkarya di Indonesia antara 1958 -1970 memberikan rekomendasi “dakwah”nya yang terbukti manjur :

1. Bangunlah gereja-gereja di dalam unit-unit yang homogen (maksudnya masyarakat yang belum terkristenkan). Statistik telah memperlihatkan bahwa pertumbuhan yang luar biasa terjadi di dalam gereja yang didirikan diantara unit-unit yang homogen. Saya jadi ingat cerita ustadz Sholehan, ketika pada tahun 1980, beliau bersama ustadz Ahmad Husnan mensurvey desa-desa di Klaten, sudah tidak ditemukan lagi desa yang 100 % muslim. Mesti sudah ada cikal bakal keluarga Kristen di sana, entah mereka yang berkonversi pasca 1965 atau pendatang yang kemudian menetap di desa tersebut.

2. Terimalah ide tentang kebaktian rumah. Hal ini juga pernah saya tulis, bagaimana tetangga saya yang pendeta melakukan kebaktian rumah, dengan jemaat yang semuanya pendatang dan tidak tinggal di perumahan tersebut.

3. Upayakanlah kesempatan-kesempatan pelayanan sosial (diakonia). Bentuk penginjilan melalui pelayanan sosial ini memang ramai jadi sorotan pada tahun 1970 an.

4. Hasilkanlah literatur pribumi dan usahakan kontak dengan orang-orang Indonesia yang masih berorientasi pada animisme.  (hal. 383 – 384).

Jadi masihkah kita akan mengatakan bahwa gereja itu sekedar bangunan untuk beribadat sebagaimana masjid yang sekarang hanya untuk sholat dan ibadah mahdhah lainnya ?

Untuk introspeksi internal umat Islam, sepertinya memang perlu penguatan fungsi masjid, supaya tidak hanya sebagai pusat peribadatan mahdhah tapi juga penguatan ibadah social. Yakni bagaimana masjid punya andil untuk menyumbang kemakmuran dan keadilan pada warga sekitarnya.

Arif Wibowo
Loading...

Posting Komentar

0 Komentar