Klarifikasi FPI Tentang Penutupan Paksa Warung Tuak di Sumut


Loading...

Front Pembela Islam (FPI) angkat bicara terkait insiden keributan di warung tuak di Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Selasa (28/4).

Ketua FPI Batang Kuis Iskandar Ansor mengatakan penutupan dilakukan karena keberadaan warung tuak dianggap meresahkan masyarakat selama bulan Ramadhan.

Iskandar mengatakan sudah jauh jauh hari dia meminta kepada Camat Batang Kuis agar menutup warung tuak tersebut namun tidak direspons dengan cepat.

"Tanggal 31 Maret 2020, saya kordinasi dengan camat. Langsung ditanggapi, camat bilang nanti kita kordinasi dengan Polsek," ujar Iskandar kepada kumparan, Kamis (30/4).

Karena tidak kunjung ditutup, dua pekan kemudian, pihaknya kembali mengingatkan camat, untuk menutup warung tuak, terlebih menjelang bulan Ramadhan.

"Saya terus ingatkan ke Pak Camat bahwasanya warung tuak masih buka, jawaban Pak Camat, 'saya pak kekurangan personel tolong bantu saya, insyaAllah saya bantu'," ujar Iskandar.

Selanjutnya karena warung tuak enggan ditutup, pada Sabtu (25/4), FPI meminta kepala dusun agar menutup warung tuak itu.

Kemudian pada Senin (27/4), kepala dusun menyurati warung tuak dan meminta agar tempat itu tutup selama Ramadhan.

Tembusan surat itu diteruskan kepada kepala desa, camat hingga Polsek Batang Kuis.

"Selanjutnya sebelum satu hari keributan terjadi, utusan pemilik warung tuak datang ke rumah saya, memohon agar warung tidak ditutup, kemudian saya bilang, tidak bulan Ramadhan saja haram, apalagi bulan Ramadhan," ujar Iskandar.

Iskandar menegaskan, pihaknya tidak akan melarang apabila pemilik warung hanya menjual teh manis atau pun kopi, selagi tempatnya ditutup tirai. 

Namun lantaran menjual tuak Iskandar mengaku didesak masyarakat sekitar untuk menutup tempat itu.

"Keesokan harinya, anggota saya lewat masih berjualan mereka. Jadi saya didesak sama kawan-kawan sama masyarakat juga, karena banyak masyarakat resah," ungkap Iskandar.

"Sebab ketika dilihat yang banyak minum tuak di situ kebanyakan sopir angkot. Mereka kemudian memarkirkan kendaraan di pinggir jalan hingga arus lalu lintas macet," ujar Iskandar.

Selanjutnya sekitar pukul 17.00 WIB, anggota FPI mendatangi warung tuak untuk menutupnya. Karena pemilik warung tidak terima ditutup sempat terjadi keributan.

Saat kejadian, Iskandar mengakui salah satu kursi plastik milik pemilik warung tuak rusak saat keributan terjadi.

"Atas kejadian pengerusakan itu saya mohon saat dimediasi, sebagai umat Islam kalau bersalah memang harus minta maaf . Tapi bukan saya minta maaf mengenai kejadian penutupan warung tuak itu, tapi karena pengerusakan itu," ujar Iskandar.

Mengenai laporan pemilik warung mengenai terhadap anggotanya, Iskandar mengaku telah mengetahuinya dan siap menghadapi proses hukum yang berlaku.

"Ya kita hadapi secara hukum, itu konsekuensinya," ujar Iskandar.
Loading...

Posting Komentar

0 Komentar