Gugat Pengusaha Tambang Ilegal yang Renggut Nyawa Anaknya, Julius Malah Dipenjara


Loading...

Apakah Nyawa Anak saya lebih rendah dari pada recehan RUPIAH?

Pertanyaannya bagaikan sambaran petir di tengah heningnya bulan suci ramadhan. Sehingga hati ini bergumam "Berapa harga yg harus dibayar rakyat kecil untuk setitik keadilan"?

Bapak ini Bernama JALIUS, dituntut 6 bulan penjara dan hari ini dijatuhi divonis 4 Bulan Penjara disertai denda Rp.1 Milyar atas tuduhan yg sama sekali tidak terbukti.

JALIUS yang kehilangan anak perempuannya hampir 2 tahun yang lalu karena terbenam di lobang galian tambang illegal di aliran sungai dekat rumahnya di Nagari Abai, Kacamatan Sangir Batang Hari, Kabupaten Solok Selatan.
Jalius dan orang tua anak lainnya menolak untuk berdamai dengan bos tambang ketika perkara meninggal anak mereka masih dalam proses penyelidikan, saat itu upaya perdamaian "didukung penuh" oleh aparat.

Orang tua korban telah "lancang dan berani" menolak tawaran damai atas nyawa anak perempuan mereka, padahal mereka berhadapan dengan orang yg berkuasa dan bisa "membeli" segala sesuatu yg dia butuhkan.
Ya waktu itu Mereka menolak tawaran uang damai sebesar 5 juta rupiah Untuk mengakhiri perkara hukum atas nyawa anak mereka. mereka masih optimis Keadilan hukum masih bisa mereka perjuangkan. Tidak hanya disitu intimidasi-intimidasi datang kepada keluarga korban yg hampir memaksa mereka untuk menyerah dan berhenti berjuang.

Hebatnya Bos pemilik tambang illegal dan pemilik alat berat yang menggali sungai secara illagal hingga hari ini tidak tersentuh hukum!
padahal sudah terang benderang terbukti melakukan aktivitas tambang illegal dengan menggali lobang di aliran sungai tanpa izin dan tanpa ada tanda pembatas, bahkan mereka menjual hasil tambang "haramnya" secara terang-terangan.

Saat bersamaan memperjuangkan keadilan atas nyawa anaknya, justru JALIUS ditetapkan jadi Tersangka atas tuduhan menyimpan Solar subsidi tanpa izin yg ada di teras rumah mertuanya.

Ajaibnya penetapan tersangka terhadap Jalius hanya dalam waktu DUA HARI sejak solar diletak di depan rumah mertuanya oleh orang tidak dikenal!! (saat proses hukum berjalan diketahui orang tersebut bernama Adek).

Sedangkan saat itu (penetapan tersangka atas dirinya) perkara hilang nyawa anaknya tidak ada kejelasan sudah lebih 3 bulan lamanya, ajaib bukan, bahkan Jalius dan keluarga sudah sudah sering bolak-balik ke kantor polisi yg jaraknya 3 jam perjalanan dari rumah mereka untuk bertanya keadilan atas nyawa anaknya, akhirnya salah satu jawaban yg mereka terima adalah PENETAPAN TERSANGKA atas dirinya karena tuduhan 27 jerigen solar yg diletakan oleh orang tidak dikenal di rumah mertuanya . Saluut dengan "cepat tanggapnya" penegak hukum untuk "menghantam" Jalius!!

Setelah melalui proses persidangan yg panjang hingga tahun berganti, menguras akal dan menguji nurani kita sebagai manusia, akhirnya telah terbukti dengan jelas dengan terungkap pada persidangan dalam perkara Jalius ini yaitu segala tuduhan kepada Jalius berdasarkan keterangan saksi yang direkayasa/ memberikan keterangan Palsu dengan tujuan memberatkan JALIUS, hal ini secara absolut telah terbukti di persidangan, yaitu Saksi yang memberatkan hanya anggota aparat yang mengamankan minyak di rumah mertuanya!

Sedangkan kebenaran keterangan aparat tersebut nyata-nyata telah bertentangan dengan keterangan bukti lainnya (saksi lain dan alat bukti surat yg otentik berupa putusan pengadilan perkara lain yg terpisah).

Kemudian fakta yg terungkap berikutnya di persidangan dan sangat menentukan adalah berasal dari keterangan saksi Jaksa Penuntut Umum, yaitu

"ORANG YANG BERNAMA ADEK YAITU PIHAK MENJUAL DAN MENGANTARKAN SOLAR KE RUMAH JALIUS PADA SUBUH HARI SECARA TEGAS MENERANGKAN TIDAK KENAL DAN BAHKAN TIDAK PERNAH BERTEMU DENGAN JALIUS."

JUSTRU ORANG INI (ADEK) TELAH TERBUKTI SEBAGAI ORANG YANG MENGANTARKAN DAN MENARUH JERIGEN SOLAR KE RUMAH JALIUS ADALAH JUGA ORANG YANG SEHARI-HARINYA MENJUAL MINYAK SOLAR SUBSIDI TANPA IZIN.

Aneh bin ajaib orang yang jelas jelas tanpa memiliki izin sebagai penjual minyak hanya berstatus saksi, padahal jelas dan terang orang tersebut adalah pemain minyak yang tidak mungkin dapat bergerak bebas melakukan aktivitas illegal tanpa ada "kong kalikong".
sedangkan Jalius yg tidak kenal dan tidak pernah sekalipun bertemu dengan penjual dan pengantar minyak tersebut justru divonis Pidana. Apa tidak GOBLOK bin IDIOT  itu!!

Aneh bin ajaib kasus nyawa anaknya yang meninggal dunia hingga saat ini masih entah sampai dimana proses hukum atas pelaku pemilik tambang dan pemilik alat beratnya.

Setelah jadwal putusan DITUNDA selama dua pekan dari jadwal yang seharusnya, akhirnya hari ini JALIUS divonis bersalah atas tuduhan 27 Jerigen Solar yg terletak di depan rumah mertuanya pada subuh hari, meskipun terbukti jalius tidak tahu siapa pemilik nya dan orang yang mengantarkan minyak di rumah jalius tidak kenal bahkan tidak pernah bertemu dengan jalius.

Alur logika dalam kasus ini Benar-benar diputus dengan logika tempurung!!

Pemain minyak bebas tanpa tersentuh, apa tidak aneh?
Polisi yang menangkap memberikan kesaksian palsu yg telah terbantahkan dengan bukti surat berupa putusan pengadilan (perkara berbeda) dijadikan alat bukti penjatuhan pidana
.
Pemilik tambang illegal, pemilik alat berat dan yg turut serta bersama dalam aktivitas tambang illegal masih bebas (4 orang). aromanya sungguh bikin mual!

Wajar Jalius bertanya Apakah Nyawa Anak Manusia Lebih Rendah Dari Pada Rupiah di mata hukum?
Kenapa mereka sangat gencar dan ngotot mengurus kasus jerigen solar dari pada kasus nyawa anak saya?
Apakah ini semua karena saya menolak tawaran damai dengan mereka?

Saya jawab: Hukum itu ibarat alat yang sesungguhnya baik, banar dan masuk akal, namun Begitulah kejadiannya jika kekuasaan penegakan hukum dipegang oleh Sarjana Hukum Tidak Berguna.

tapi jalan berliku mencari keadilan masih panjang, akan kita tempuh walaupun berduri. Kita berdoa semoga di dalam tumpukan lumpur masih ada setitik emas yang bercahaya Dan Kita akan menemukannya jika Allah mengizinkan.

insya Allah JALIUS dan anaknya AURA (almarhumah) dapat segera merasakan keadilan yg tersisa walaupun hanya setetes.

Sumber
Loading...

Posting Komentar

0 Komentar