Biaya Rp6,7 M... Dapat Rp4 M... Eh, Rp2,5 M Ternyata Prank, "Urus Konser Aja Gagal, Apalagi Urus Negara!"


Loading...

“Konser dengan biaya Rp6,7 miliar dapatnya Rp4 miliar. Dapat untung besar #UrusKonserAja GAGAL.. Apalagi urus negara… Tekoor,” tulis Rizal Ramli.

“Makanya kalo mau konser ajak KPU hitung-hitungannya biar untung… 6,7M+4M=64,7M,” sambung tulisan di postingan Rizal.

Lelang amal bersama Bimbo yang digagas MPR dan BPIP beberapa hari yang lalu berakhir tragis. Sederet pejabat tinggi yang menginisiasi acara itu harus menahan malu karena kena prank.
-----

Beberapa media mengabarkan, M Nuh yang memenangkan lelang sepeda motor listrik Gesits bertanda tangan Presiden Joko Widodo ditangkap aparat Polda Jambi karena tidak punya uang untuk menebus barang yang dimenangkannya dengan harga Rp 2,5 miliar itu. M Nuh yang dalam siaran langsung TVRI disebut sebagai pengusaha itu ternyata seorang buruh harian lepas.

Namun Kabid Humas Polda Jambi buru-buru membantah. M Nuh hanya ‘diwawancarai’. Tidak ditangkap dan tidak ditahan.

Saya tidak akan membahas bagaimana nasib M Nuh dan sepeda motor listrik itu selanjutnya. Saya juga tidak akan membahas bagaimana cara MPR dan BPIP mendapatkan uang pengganti senilai Rp 2,5 miliar itu.

Saya lebih tertarik membahas teknik menyelenggarakan lelang melalui televisi. Belajar dari pelaksanaan siaran langsung lelang amal yang amburadul di TVRI itu.

Amburadul? Ya. Saya harus mengatakan demikian. Mengapa? Karena metode lelangnya sungguh asal-asalan. Panitia bahkan tidak menggunakan mekanisme sesuai kaidah lelang yang seharusnya.

Dalam sebuah acara lelang, seharusnya panitia menggandeng perusahaan penyedia jasa lelang. Bisa perusahaan swasta maupun lembaga milik pemerintah yang berwenang melakukan lelang barang milik masyarakat.

Lembaga lelang ini pasti menerapkan proses pendaftaran peserta lelang. Caranya, para peserta lelang harus melakukan registrasi terlebih dahulu. Registrasi bisa dilakukan secara manual ke kantor lembaga lelang atau menggunakan aplikasi lelang yang disediakan lembaga lelang.

Selain harus registrasi, lembaga lelang akan menetapkan kewajiban bagi peserta lelang. Salah satunya: Uang jaminan lelang.

Uang jaminan itu harus dibayar peserta lelang terlebih dahulu ke escrow account lembaga lelang. Sifatnya adalah ‘titipan’. Kalau menang uang itu akan dipindahbukukan ke rekening panitia. Kalau tidak menang, uang tersebut akan dikembalikan tanpa potongan.

Dari mana para peserta lelang mengetahui prosedur mengikuti lelang? Tentu saja dari pengumuman lelang yang diterbitkan lembaga tersebut. Bisa melalui media cetak, maupun media online dan official website lembaga itu.

Tapi mekanisme lelang amal di TVRI itu sungguh kacau. Bahkan boleh dibilang sangat ngawur.

Di panggung utama ada Ketua MPR Bambang Soesatyo dan dua presenter. Salah satunya saya kenal: Andi Noya. Yang satunya lagi, yang kepalanya gundul, saya tidak ingat namanya.

Di sisi panggung lainnya ada beberapa artis. Saya tidak kenal semua. Hanya saja, presenter sempat menyebutkan nama panggilan mereka: Wanda, Cita, dan entah siapa lagi.

Ketika Andi Noya bertanya tentang prosedur mengikuti lelang, presenter gundul menjawab dengan santai.

‘’Prosedurnya sangat mudah. Pemirsa cukup menelepon panitia melalui nomor yang sudah ditentukan, menyebutkan identitas dan alamat serta harga penawarannya saja.’’

Ada beberapa nomor yang tertera di layar kaca. Sepertinya, setiap nomor dijaga oleh seorang artis yang namanya Wanda, Cita dan entah siapa lagi itu.

Lucunya, dalam siaran langsung itu, para penjaga telepon juga menerima penawaran dari publik yang dikirim melalui smartphone si artis. Artinya, bukan dari pesawat telepon yang nomornya tertera di layar kaca.

Sebentar-sebentar artis A menerima telepon. Belum selesai menjawab telepon itu, dia sudah membaca ada pesan yang masuk melalui smartphone-nya.

Ini lelang model apa? Saya belum pernah melihat metode lelang seperti itu. Pantas saja kalau ada yang berpendapat, ‘’Panitia kena prank.’’

Seharusnya, panitia menerapkan metode ini kalau lelangnya hendak disiarkan di stasiun televisi.

1/ Gunakan aplikasi lelang online.

2/ Tampilkan proses lelang online itu ke layar TV yang dipasang di panggung utama.

3/ Gunakan kamera lain untuk menayangkan video presenter di panggung dan tayangan di layar TV untuk bahan siaran langsung.

4/ Gunakan aplikasi video capture untuk menampilkan pergerakan harga lelang ke sistem siaran TV.

5/ Selama proses lelang online berjalan, presenter dan tamu undangan boleh saja berdialog dan menyemangati para peserta lelang untuk menghasilkan harga penawaran tertinggi.

6/ Beri kesempatan bagi penyedia jasa lelang dan notaris untuk mengumumkan pemenang lelang dengan menampilkan hasil akhir proses lelang online-nya di layar TV.

Seminggu sebelum peristiwa itu terjadi, saya dikontak seorang sahabat. Ia professional dalam bisnis konten digital. ‘’Bagaimana teknik menggunakan video conference untuk acara lelang yang disiarkan langsung?’’ tanyanya.

‘’Bergantung platform media yang akan digunakan untuk menonton siaran itu,’’ jawab saya.

Untuk memperjelas, saya sempat membuatkan skema tekniknya. “Untuk siapa konsep lelang ini?’’ tanya saya.

‘’Untuk teman saya,’’ jawabnya.

Semula saya mengira, ada lembaga lelang yang ingin menggunakan konsep itu agar lelang online juga bisa disiarkan secara audio visual sehingga menjadi program siaran live interactive yang seru.

Apakah teman yang dimaksud panitia lelang amal itu? Rasanya bukan. Karena metode lelang yang saya buat  bukan untuk nge-prank alias lucu-lucuan.(jto)

Penulis adalah praktisi jasa webinar, pernah mengelola stasiun TV.
Berbagai artikel saya yang lain bisa dibaca di www.wfhsolution.wordpress.com
Loading...

Posting Komentar

0 Komentar