Pendeta Tenar Bertengkar Karena Corona, Penulis Seword : Persis Badut!!!


Loading...

Argo, salah seorang penulis di Seword mengaku malu pada tabiat para pendeta terkenal yang bertengkar gara-gara corona.

Di sebuah kalimat, Argo bahkan menganjurkan agar pendeta-pendeta tersebut diikatkan batu di leher, kemudian ditenggelamkan ke laut. Berikut isi tulisannya :

Shalom saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan kita Yesus Kristus, sebelum mengurai tulisan ini pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat hari Minggu, selamat ibadah virtual online.

Kiranya kasih Tuhan kita Yesus Kristus menyertai saudara-saudari sekalian dimanapun berada, selalu dijaga dalam lindungan kasihNya, diberi kekuatan dan kesehatan, dijauhkan dari mara bahaya dan celaka virus Corona.

Ya benar, virus Corona. Virus ini akhirnya sukses membuat para Pendeta orang Kristen berkelahi. Diawali dari Pendeta Niko Njotorahardjo yang bilang bahwa Yesus menyuruhnya menghardik virus Corona agar diam dan tenanglah, sama seperti Yesus menghardik badai di danau Galilela, diam dan tenanglah.

Tapi faktanya bukannya virus Corona diam dan menjadi tenang, malah virus Corona justru semakin menggila. Akibatnya Pendeta Stephen Tong pun tensi darah tingginya naik drastis seketika.

Pendeta Stephen Tong lalu menantang para Pendeta yang katanya punya kuasa itu kalau berani silahkan melakukan KKR kesembuhan untuk menyembuhkan semua penderita virus Corona.

Bilamana perlu kumpulkan semua penderita virus Corona di Istora atau Gelora Bung Karno, lalu silahkan para Pendeta yang katanya punya kuasa penyembuhan, sembuhkan semua pasien penderita virus Corona itu disana.

Atau silahkan pergi ke Amerika sana dan sembuhkan 100 ribu penderita Covid-19 dalam sehari. Bisa apa tidak? Pendeta Stephen Tong marah besar dan menuding mereka adalah para penipu yang telah puluhan tahun meraup keuntungan.

Sentilan Pendeta Stephen Thong itu bikin Pendeta Gilbert Lumoindong meradang dan mencak-mencak. Pendeta Gilbert menuding ucapannya Pendeta Stephen Thong itu menghakimi, menggunting dalam lipatan, berhati busuk, kurang kerjaan, dan lain sebagainya.

Lalu muncul Pendeta Esra Soru yang dari Rote juga ikut masuk dalam arena gelanggang perkelahian dengan ayat-ayat Alkitab dan firman Tuhan.

Sampai di sini saya yang hanya jemaat biasa yang penuh dengan dosa yang membandel karena tukang minum mabok, tukang dugem, suka cipokan dan remek tete cewe di tempat dugem ini hanya bisa melongo.

Bagaimana saya tidak melongo, ini sebenarnya apa-apaan? Kok sama-sama orang Kristen, apalagi status mereka sebagai Pendeta pemimpin jemaat, malah berkelahi dan adu mulut di youtube.

Bukannya bersama-sama berdoa minta tolong dan minta ampun sama Tuhan agar virus Corona segera dibersihkan dari muka bumi ini, malah mereka saling baku hantam dan bertengkar sendiri.

Orang Islam yang tukang ngenyek orang Kristen macam Abdul Somad dan Yahya Waloni itu pasti akan tertawa ngakak salto guling-guling kalau sampai mereka menonton perkelahian para kaum kafirun yang top markotop itu di youtube.

Ya jangan salahkan mereka tertawa ngakak karena prilaku para Pendeta itu sendiri tidak menunjukkan suri tauladan sebagai pemimpin agama yang teduh agar tidak ditertawai orang luar yang tidak seiman, malah saling adu mulut di youtube.

Harusnya perbedaan pendapat macam begini ini hanya jadi konsumsi internal saja, tak perlu lah dikonsumsi oleh umum dan khalayak ramai. Makanya jangan salahkan saya kalau tulisan ini saya bikin, biar rame sekalian.

Tulisan ini bukan tulisan yang menggiring opini bahwa apa yang dikatakan para Pendeta itu tidak benar semuanya. Tidak sama sekali. Kenapa? Karena saya tidak punya kapasitas untuk itu.

Justru tingkah pola mereka yang macam badut rohani lah yang menunjukkan kedegilan pola berpikir dan kemunafikan yang akhirnya ditelanjangi Allah di muka publik.

Yang jadi korban adalah para jemaat penuh dengan dosa yang membandel model macam saya ini yang akan berubah menjadi keledai dungu yang tidak tahu kepada Pendeta mana harus dijadikan tunggangan landasan iman.

Kalau semua Pendeta itu merasa diri mereka yang paling benar dan paling tahu, betapa sialnya kami ini yang hanya jemaat biasa.

Dalam pandangan rohani, kalimat-kalimat positif dan optimis adalah hal yang wajar karena perkataan positif sama juga dengan doa. Yang menjadi tidak wajar jika para Pendeta itu berkelahi karena merasa diri paling benar dari Pendeta lainnya.

Jujur saja saya bingung dengan ulah mereka. Apakah dengan menunjukkan kepintaran dan kehebatan masing-masing akan membuat orang yang melihat mereka akan ramai-ramai pindah ke Gereja mereka?

Di musim Corona ini, harusnya para Pendeta yang berkelahi itu mengurangi aktifitas yang berpotensi menurunkan imune tubuh. Jaga kesehatan dan ingat umur supaya terhindar dari virus Corona.

Dengan demikian tidak membebani pemerintah dan paramedis yang pastinya akan lelah berjuang bertaruh nyawa untuk menyembuhkan mereka dari virus Corona.

Pemerintah telah berjuang keras menangani wabah Corona kamu main usir saja virus Corona suruh diam dan tenanglah, mana bisa? Ngaco aja. Punya TV mbok ya ditonton itu berita-berita, jangan hanya dipajang saja sampai jadi besi tua karatan.

Ulah para Pendeta yang berkelahi itu mengingatkan saya akan ayat dalam Alkitab yang menyatakan, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.

Tapi siapakah dari antara para Pendeta yang berkelahi itu yang pantas lehernya diikat batu dan dibuang ke laut? Au ah gelap. Mari kita bertanya saja kepada pasir berbisik dan rumput yang bergoyang. Barangkali di sana ada jawabnya.

Kura-kura begitu.
Loading...

Posting Komentar

0 Komentar