Hari Pers Nasional, Antara Anjing Pemerintah Vs Anjing Rakyat


Loading...


Sebelum Virus Corona menjadi liar dan memakan banyak korban, seorang dokter di China sudah memberi peringatan. Namun karena dianggap sudah menyebarkan ketakutan dan meresahkan warga, Pemerintah China tanpa mendengar penjelasan lebih lanjut, langsung memenjarakan si dokter.

Media juga dikontrol. Agar seirama dengan suara pemerintah. Hasilnya, wabah Corona malah semakin menghantam China.

Langkah China menanggulangi suara rakyat tersebut, ternyata juga dipraktekkan di semua negara. Salah satunya Indonesia.

Di satu postingan di fanspage resmi Presiden Joko Widodo menyebutkan keinginan agar media bisa kompak bersama pemerintah.

Negara dalam tulisan tersebut, membutuhkan pers untuk melawan kekacauan informasi, penyebaran hoax dan ujaran kebencian.

Dengan kata lain, pers bersama medianya, hanya sebagai tangan kanan dan juga sebagai juru bicara pemerintah.

Pers dijadikan anjing penjaga yang siap menggonggong saat majikannya merasa terancam. Saat kabar-kabar rakyat dianggap mampu menggerus kepercayaan terhadap pemerintah.

Sayangnya, anjing pemerintah berasal dari spesies unggul yang giginya tajam, tubuhnya berotot dan teriakannya nyaring hingga senusantara.

Lalu siapa yang mengawal jeritan suara rakyat?

Yang jelas, anjing rakyat lebih lemah dari anjing pemerintah. Suara gonggongannya gampang dibungkam dengan label hoax sepihak. Padahal ahli hoax adalah istana.

Meski terlalu lemah, namun pers yang menyerahkan jiwanya untuk rakyat akan terus selalu berteriak bersama majikannya.

Penderitaan rakyat dimulai saat pemilik media besar ikut duduk di pemerintahan...
Loading...

Posting Komentar

0 Komentar