Wartawan Senior : Sikap Politik Koran dan Tragedi Jawa Pos


Loading...

Sikap politik koran dalam pemilihan umum yang tinggal 4 bulan lagi itu cukup menarik untuk diamati. Sepertinya, ini semacam pertanda-pertanda. Entah apa. Bergantung mata siapa dan kaca jenis apa yang digunakan.

Sudah bukan rahasia lagi. Banyak koran yang berpihak alias tidak netral dalam pemilu 2019. Tidak seperti kentut yang tak bersuara, Dukungan itu terang-terangan. Bisa dirasakan dalam pemberitaannya.

Menguntungkankah sikap media seperti itu? Menurut pendapat saya, sikap itu justru merugikan.

Siapa yang rugi? Pertama: tentu saja pihak yang didukung. Pihak itu rugi karena dukungan media itu menjadi tidak berarti. Publik terlanjur tidak percaya lagi. Pada media itu.

Sikap masyarakat tersebut menimbulkan kerugian kedua: terhadap media itu sendiri. Meski tidak ada data, saya menduga penjualan koran-koran berat sebelah itu terus menurun. Karena krisis kepercayaan.

Padahal, kepercayaan merupakan asset termahal media. Waktu bertahun-tahun dengan biaya bejibun tidak dipedulikan untuk mendapatkan kepercayaan itu.

Mungkin banyak pengelola media yang sudah lupa atau belum lahir saat ‘’Jawa Pos’’ mengalami ‘’tragedi politik’’. Akibat menyisipkan advertorial 4 halaman dari salah satu peserta pemilu pada dekade 90-an.

Zaman itu, peserta pemilu hanya 3: PPP, Golkar dan PDI. Zaman itu peserta pemilu dilarang memasang iklan. Salah satu peserta pemilu menyiasatinya. Tidak pasang iklan, tetapi menyisipkan advertorial di dalam koran ‘’Jawa Pos.’’

Hari itu, ramai sekali protes pembaca. Dulu belum ada email dan media sosial. Protesnya melalui telepon. Atau mengirim surat pembaca melalui faksimili. Atau melalui surat. Ada yang dikirim sendiri dan ada yang lewat pos.

Sisipan memang bukan iklan. Tetapi pembaca mana peduli? Meski menurut tafsir hukum ‘’Jawa Pos’’ bisa dibenarkan, tafsir pembaca mengatakan sebaliknya.

Gara-gara halaman sisipan itu, pasar ‘’Jawa Pos’’ terguncang. Agen-agen mengeluh. ‘’Jawa Pos’’ sulit dijual. Oplah pun turun drastis. Pimpinan ‘’Jawa Pos’’ saat itu sampai mengumpulkan redaksi dan karyawan untuk meminta maaf.

Tidak mudah untuk mengembalikan kepercayaan pembaca. Apalagi kalau yang didukung itu akhirnya kalah. Lengkap sudah penderitaannya: pemilik modalnya, karyawannya dan wartawannya.

Sudah tahu risikonya sebesar itu, kok masih diterus-teruskan. Ingat, pembaca itu sensitif. Mereka bisa loyal tapi juga bisa sadis.(joko intarto)

Penulis adalah wartawan Jawa Pos (1991 – 2010)
Loading...

Posting Komentar

0 Komentar