Dukung Ormas Islam Bubarkan Acara Kristenisasi, Orang Ini Sebut Sultan Jogja Intoleran!


Loading...

Penghadangan terhadap acara bakti sosial yang diselenggarakan Gereja Katolik St Paulus Pringgolayan, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Senin (29/1) berbuntut panjang.

Massa dari Front Jihad Islam (FJI), Forum Umat Islam (FUI), dan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) menyebutkan bahwa acara bakti sosial tersebut dicurigai sebagai agenda kristenisasi. 

Hal tersebut diperkuat pernyataan Sultan Hamengubuwono X dan Kapolres Bantul.

Sultan dengan tegas menyatakan ketidaksetujuan terhadap bakti sosial yang mengatasnamakan gereja di tengah lingkungan warga muslim, sebab hal itu berpotensi memicu gesekan.

Sedangkan Kepala Polisi Resor Bantul DI Yogyakarta, AKBP Sahat M Hasibuan kepada media mengatakan bahwa penolakan bakti sosial itu terjadi karena kurang komunikasi antara pihak Gereja dengan masyarakat.

Sementara itu Setara Institute mengecam peristiwa diskriminasi, toleransi dan vigilante (main hakim sendiri) yang memakai sentimen keagamaan terhadap orang lain, seperti terjadi di Yogyakarta.

"Kita harus terus menyatakan keprihatinan atas terus berulangnya peristiwa yang terjadi Yogyakarta," kata peneliti Setara Institute, Halili, di Jakarta, Kamis (1/2).

"Tindakan main hukum sendiri semacam itu mesti kita baca sebagai ancaman terhadap harmoni dan kedamaian sosial di tengah kebhinnekaan Indonesia," katanya.

"Pernyataan Gubernur dan Kapolres tersebut jelas-jelas problematik. Pertama, sikap dalam ekspresi verbal tersebut jelas menyalahkan pihak korban (blaming the victim)," ujar Halili.

Menurut dia,  pernyataan tersebut sesungguhnya pola lama respons pemerintah dan aparat atas berbagai kasus intoleransi, diskriminasi, pelanggaran atas hak-hak minoritas keagamaan di mana pemerintah cenderung menjadikan korban sebagai objek blaming, scapegoating (pengkambinghitaman), bahkan kriminalisasi.  [ald/rmol]
Loading...

Posting Komentar

0 Komentar