Waria di Aceh Ketakutan, Banyak yang Melarikan Diri ke Medan


Loading...

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, mengecam tindakan polisi di wilayah Aceh Utara yang melakukan penangkapan dan penahanan sejumlah waria, memangkas paksa rambut mereka, dan menutup salon tempat mereka bekerja.

Komisioner Pendidikan & Penyuluhan Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara, menyebut tindakan itu merendahkan martabat manusia dan bertentangan dengan peraturan. "Semua warga negara harus mendapat perlindungan hak asasinya. Dan semua warga negara harus mendapat perlakuan yang sama," kata Beka kepada BBC, Senin (29/01).

Beka mengatakan Komnas HAM akan meminta klarifikasi kepada Kapolda Aceh terkait peristiwa tersebut.

Seorang pegiat HAM di Aceh -yang tak mau disebut namanya- mengatakan para waria sekarang dilanda ketakutan. "Sudah tujuh orang yang mengungsi ke Medan hari ini."

Kepolisian Aceh Utara dan Polisi Syariah Wilayatul Hisbah menangkap sejumlah waria dikawasan Lhoksukon dan Tanah Jambo Aye, pada Sabtu malam (27/01).

Kapolres Aceh Utara, AKBP Untung Sangaji mengatakan penangkapan tersebut dilakukan karena Pelaksanaan Operasi Pekat (penyakit masyarakat), dalam rangka penertiban waria yang disebutnya semakin meresahkan warga.

Sebanyak 12 orang waria ditangkap, dan lima salon yang mempekerjakan mereka juga sudah diberi garis polisi, seperti dilaporkan wartawan di Aceh, Hidayatullah.Untung Sangaji menyebut para transgender itu 'diamankan,' setelah polisi mendapat laporan 'keresahan warga.'

Ia menambahkan polisi kemudian memotong paksa rambut para waria itu serta melepas semua pakaian perempuan yang mereka kenakan, untuk diganti dengan pakaian laki-laki.

"Mereka kita tahan selama tiga hari untuk diberikan pembinaan. Tadi malam saya lihat mereka semua mampu berprilaku dengan baik seperti laki-laki 'normal,'" kata Untung Sangaji pula.
Loading...

Posting Komentar

0 Komentar